Untuk Apa Kita Bekerja?

Menanam PohonPertanyaan yang mungkin mudah untuk dijawab, tapi bisa jadi juga sulit untuk dijawab. Sebagian orang akan menjawab, bekerja untuk mendapatkan penghasilan. Tidak salah tentunya. Namun bagi sebagian lagi, penghasilan bukanlah satu-satunya tujuan kita bekerja. Ada lagi yang bekerja tidak untuk penghasilan, misalnya kerja sosial. Teman-teman pembaca juga mungkin punya jawaban yang lain. Jadi sebenarnya untuk apa?

Kalau kita merujuk ke teori kebutuhan dasar yang diutarakan oleh Abraham Maslow, ada 5 tingkatan kebutuhan manusia yang menjadi motivasi untuk berusaha (bekerja):

  1. Physical : materi (termasuk uang).
  2. Safety and security: rasa aman dan nyaman.
  3. Social: interaksi sesama manusia.
  4. Self-esteem: pencapaian, rasa hormat dari orang lain, kebanggaan.
  5. Aktualisasi diri.

Kita bekerja mengorbankan tenaga, waktu, dan pikiran, dengan harapan mendapat imbalan untuk memenuhi 5 kebutuhan tersebut. Imbalan tak terbatas hanya dari materi. Ada kalanya kita menganggap materi yang kita raih tak sebanding dengan usaha yang kita keluarkan. Tapi, lihat lagi “imbalan” non-material dari 4 sisi yang lain. It is really earned, not given. Hasil perjuangan dan jerih payah kita.

Nah, yang perlu kita tinjau lagi, on top of those 5 needs, kita bekerja juga adalah amal ibadah. Perlu untuk disadari.

Reward and punishment. Soal punishment, saya rasa cukup clear untuk improvement. Begitu juga dengan reward, adalah sesuatu yang benar-benar harus kita capai dengan perjuangan yang tak mudah. Walaupun kita mencapai prestasi tertentu, belum tentu bisa mendapatkan reward-nya. Karena yang paling penting adalah upaya kita, dan manfaat yang timbul dari upaya tersebut: hasil yang dirasakan tak hanya oleh perusahaan, tapi juga oleh masyarakat dan khalayak ramai.

Jadi, ibarat menanam benih: tidak semua orang bisa memetik buahnya. Apalagi instan. Butuh waktu. Dan begitu berbuah, belum tentu untuk kita. Bisa jadi untuk orang lain. Atau, bisa juga kita simpan (tabung) dulu untuk masa depan.

Ada filosofi yang bisa kita pelajari dari buah-buahan ini. Adakah di antara teman-teman pembaca yang bertanya-tanya, “Mengapa di dalam buah mangga ada bijinya?”

Untuk menikmati buah mangga, pertama-tama kita harus kupas kulitnya kan? Mengupas itu adalah usaha. Setelah mengupas kulitnya (usaha), baru kita bisa menikmati daging buahnya. Dagingnya itu adalah hasil dari usaha.

Namun, bagaimana kita menikmati daging buah tersebut? Belum tentu semua buah yang kita kupas itu dagingnya enak dan manis. Pun kalau matangnya tidak alami, akan terasa tawar. Enak atau tidak enak itu bisa jadi relatif. Tergantung dari seberapa tinggi harapan (expectation) kita. Kalau tidak sesuai harapan (di bawah harapan), tentunya kita akan merasa kecewa, tidak bisa menikmati hasil.

Begitulah kalau kita terlalu mengharapkan hasil dari setiap pekerjaan kita. Akhirnya akan mengurangi keikhlasan kita dalam bekerja. Berkurangnya keihklasan membuat kita kurang bisa menikmati hasil pekerjaan kita. Namun sebaliknya, kalau kita bekerja dengan ikhlas, kita akan cenderung tidak kecewa dan lebih menikmati hasilnya.

Setelah kita menikmati nikmatnya daging buah mangga, baik itu sendiri maupun bersama teman atau keluarga, kita pun disodori dengan biji buah mangga. Nah, itu adalah kewajiban dan tanggung jawab. Kita punya tanggung jawab untuk menanam kembali biji itu agar mangga bisa dinikmati untuk generasi penerus.

Begitu juga dalam hidup. Kita berusaha dan bekerja. Kita juga menikmati hasilnya. Tapi tak lupa, kita juga punya tanggung jawab untuk berbagi dan mewariskan ilmu yang kita dapat dan kita pelajari selama kita hidup untuk orang lain. Untuk generasi penerus. Sehingga, hidup kita tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Bagi masyarakat luas. Setuju? (HS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>