Posted on April 1st, 2011

Memberikan Kuliah di Rumah Perubahan
Saat ini saya masih menjadi seorang professional di dunia bisnis. Namun, saya juga tidak mungkin selamanya aktif di dunia bisnis. Ada waktunya untuk berhenti. Pensiun dari dunia bisnis. Saya berkeinginan menjadi dosen tatkala nanti sudah tidak aktif lagi sebagai profesional bisnis.
Alasan saya memilih dunia pendidikan setelah pensiun adalah karena saya mencintai dunia pendidikan. Kedua orang tua saya adalah guru. Saat masih kuliah sebagai mahasiswa sekitar tahun 1988 dulu, saya juga sempat mengajar di Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong setiap Sabtu.
Dalam beberapa tahun terakhir ini saya sudah beberapa kali menjadi dosen tamu di beberapa perguruan tinggi baik negeri maupun swasta seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Trisakti, Universitas Bina Nusantara, Universitas Atma Jaya, dan juga almamater saya sendiri: Institut Teknologi Bandung. Saya sangat menikmati saat-saat mengajar. Di samping menerapkan teori, tentunya saya perlu mengimbanginya dengan praktik. Kebanyakan dari mereka meminta materi seputar bisnis dan leadership.
Selain mengisi kuliah sebagai dosen tamu, saya juga beberapa kali diundang untuk sharing mengenai strategi bisnis, dan kepemimpinan (leadership) di beberapa perusahaan besar dan kecil. Seperti yang pernah saya jelaskan pada tulisan-tulisan sebelumnya mengenai kepemimpinan, saya cenderung memilih gaya kepemimpinan partisipatif yang saya nilai memberikan hasil yang lebih baik karena keterlibatan banyak orang.
Untuk saat ini, saya rasa memberikan kuliah sebagai dosen tamu adalah hal terbaik yang mungkin saya lakukan untuk mengabdi pada dunia pendidikan di sela-sela kesibukan saya saat ini.
Kuliah tamu juga merupakan salah satu penerapan aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari XL dengan program “Xtra Learning”. Kegiatan knowledge sharing ini bukan hanya dilakukan oleh saya saja tapi juga banyak dilakukan oleh banyak karyawan XL lain. Karyawan diijinkan perusahaan untuk mengajar sebagai dosen tamu masuk ke kampus, sekolah, maupun komunitas.
Selain karyawan XL yang berkunjung ke institusi pendidikan, perusahaan juga seringkali menerima rombongan siswa dan mahasiswa yang berkunjung untuk bertemu dengan management dan mendapatkan informasi seputar apa yang dilakukan perusahaan.
Program Xtra Learning ini akan terus digiatkan oleh perusahaan. Tujuannya adalah dengan sharing maka kita bisa saling melengkapi. Mari berbagi! (HS)
Menjadi guru atau dosen adalah pekerjaan yang sangat mulia…merupakan salah satu amal manusia yang tidak terputus jika nanti kita di akherat kelak…syaratnya “ikhlas”.
Banyak guru / dosen yang sudah melupakan filosofi “ilmu ikhlas” ini, lebih berharap dengan materi dan penghargaan daripada ibadah…
Benar sekali, Pak Faruq. Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk berbagi opini di blog ini.
Dear Bapak, saya termasuk orang yang mengagumi sosok bapak, saya tidak menangkap tujuan materi dari keinginan bapak menjadi dosen selepas menjadi profesional tetapi ibadah yaitu menjadi orang yang bermanfaat untuk orag lain, meski aktifitas tersebut pastilah mendatangkan materi, ibarat pepatah bila mengejar ibadah bagai menanam padi rumput pasti tumbuh.
hanya segelintir orang yang punya keinginan “sedarhana” seperti bapak diantara yang saya kagumi juga Dr. Yose Rizal yang mengabdi juga untuk sesama, kalau melihat potensi yang bapak miliki bapak bisa saja memperkaya diri dan keluarga. saya iri pak ada keinginan seperti itu namun kapasitas dan tuntutan materi untuk mencukupi kebutuhan keluarga menjadi kan ruang gerak yang sempit, bilapun saya pensiun apakah saya bisa lepas dari aktifias mengejar materi saya rasa tidak.
meski terus membasarkan hati saya pasti bisa namun kenyataan tetap didepan mata, harapan dan keinginan sederhana saya baru tahap menjadi yang terbaik untuk keluarga, menjadi ayah yang dibanggakan anak2 saya dan menjadi suami yang dicintai sepenuh hati oleh istri saya.
apakah bapak bisa membantu mencerahkan ? anggap sebagai dosen dengan audience kecil disini
semoga bapak istiqomah dan pastinya menjadi kebanggaan Allah, Rosul dan orang-orang yang beriman.
salam.
Yth Bapak Zenar, menarik sekali pertanyaan yang diajukan.
Memang banyak alternatif yang bisa dilakukan setelah pensiun. Dengan kondisi ekonomi Indonesia yang meningkat pesat belakangan ini (GDP kita sudah sekitar USD 500) demand untuk secondary product meningkat pesat. Ini merupakan peluang emas bagi kita walaupun kita memasuki usia pensiun.
Masalahnya ada di diri kita pribadi. Saya sudah bekerja sebagai pegawai (istilah kerennya profesional, padahal tetap saja pegawai) hampir 30 tahun, relatif sudah karatan di situ. Untuk memulai membuka usaha sendiri seperti banyak disarankan sahabat saya sudah tidak sanggup, hingga sisa pilihan adalah tetap bekerja setelah pensiun.
Nah, diantara pilihan bekerja yang paling logis buat saya karena sesuai keinginan dan keturunan (bapak dan ibu saya guru) ya menjadi dosen. Bekerja sekalian mengabdi, mudah2an ada pengalaman saya yang bisa dimanfaatkan generasi berikut (belum tentu juga, tetap perlu diuji dulu). Khusus untuk anda sebaiknya dilihat berbagai kemungkinan yang tersedia. Kalau bisa terus berkarya kenapa tidak, atau kalau ingin memulai jadi wiraswasta sangat terbuka. Memang sebaiknya dimulai sebelum pensiun, dengan mencoba sedikit demi sedikit.
Kita memang generasi yang kurang beruntung barangkali. Waktu kuliah di jaman kita jarang sekali program2 entrepreneur masuk kampus. Saat ini saya lihat hampir semua universitas membuka kuliah umum tentang entrepreneurship. Jadi lulusan perguruan tinggi lebih siap utk jadi wiraswasta.
Kisah nyata, kemarin saya ketemu seorang anak muda yang punya perusahaan.. Saya salut benar melihat dia. Waktu saya tanya ide datang dari mana jawabnya mengejutkan. Dia bilang dia membantu keluarga membuka salon. Mulai dari design ruangan, managemen dan pelatihan SDM, pembuatan Sistem Informasi semua dikerjakan sendiri. Setelah sukses membantu keluarga, dia berfikir untuk mulai membuat usahanya sendiri di bidang konsultan, konstruksi dan IT hanya dengan mengandalkan pengalaman membuka salon tsb sebagai titik awal. Setelah mengalami suka duka memulai usaha akhirnya ybs sukses sampai sekarang.
Demikian sekilas pengalaman nyata dari young entrepreneur, yang dapat menggunakan sedikit pengalaman menjadi ide bisnis yang bidangnya meluas dan berkembang. Satu lagi, untuk memulai usaha sebaiknya kita pilih berdasarkan hobi atau kesenangan apalagi setelah pensiun agar usaha yang kita jalankan menyenangkan dan dikerjakan dengan hati.
Terima kasih.
Subhanalloh..jarang sekali saya menemukan sosok seperti P Hasnul. Kebanyakan mantan2 CEO di masa pensiunnya masih saja mati2an menguber pulus (baca:kepuasan duniawi).
Semoga cita2 mulia ini bisa terwujud serta mendapatkan pahala kebaikan dari Alloh SWT, aammiin…
AR, terima kasih atas doanya. Amin.
Apa yang Pak HS lakukan melalui blog ini, adalah jauh melebihi pendidikan konvensional. Bapak telah menjadi dosen dunia maya kita. Jika dikelas hanya ratusan mahasiswa, maka melalui blog ini, jumlah siswanya unlimited. Seorang siswa Sekolah Dasar kelas 6 pun bisa mendapat pembelajaran luar biasa melalui blog ini.
Salam Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.
Pak David,
Memang salah satu tujuan saya membuat blog ini adalah sebagai media untuk berbagi. Apalagi dunia internet ini mampu menembus batas-batas yang sebelumnya ada di dunia nyata. Terima kasih atas komentarnya.
Memang salah satu kendala orang berusaha adalah “Kapan untuk memulainya “, punya keberanian apa tidak.
Yang ada biasanya memulai usaha dengan terpaksa. Setelah kena PHK baru coba sana coba sini. Yang benar memang pada saat masih bekerja sudah mulai usaha, jadi begitu pensiun atau PHK sudah siap untuk mengembangkan yg sudah ada. Tapi…. ya itu “Siapa yang mau meninggalkan Comfort Zone ” Saya termasuk orang yang setengah2 meninggalkan comfort zone.
Saya dibesarkan diperusahaan retail, jabatan dari Supervisor sampai Store Manager sudah sering saya sandang. Seperti bapak, saya juga pindah2 dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Karena menurut saya kalau gak pindah pasti naik gajinya paling cuma 10 %. Perusahaan terakhir yang saya singgahi hanya bertahan 7 bulan, karena saya tidak cocok dg pimpinan.
Pada saat itu saya benar2 harus berhitung : akan meninggalkan comfort zone (fasilitas mobil, pulsa unlimited, laptop). Pada saat itu saya harus mengambil keputusan “take it or leaved it ” Akhirnya saya meninggalkan kerjaan. Pada saat itu bulan puasa. Orang bilang keputusan saya konyol, karena sebentar lagi mau Lebaran, anak2 beli baju baru gimana, Siapa yang mau bayar THR.
Hal positifnya luaaaar biasa. Setiap ramadhan waktu saya bekerja di toko, tidak ada waktu u idah full, karea kena shift.
Setelah saya mundur dalam satu bulan saya bisa ibadah yang seperti dijalankan Nabi Muhammad (mirip2 lah gak mungkin sama ) . Dari sholat 5 waktu selalu jamaah. 10 hari terakhir iktikaf di masjid. 10 hari setelah lebaran saya baru bergerak cari usaha kesana-kemari. Jadilah IPPO Fried chicken
sangat setuju dengan Bapak Hidayat Widiyatmoko…
tuk memulai memang sulit, apalagi dengan tidak adanya modal seperti saya. tuk nyelasaikn kuliah saja masih cari kesana-kemari, jalan satu3-nya ya jadi karyawan.
semoga pengalaman bapak jadi insipiratif…
Bapak Hidayat Widiyatmoko,
Cerita Bapak sungguh inspirasional. Meninggalkan zona nyaman tentulah sangat tidak mudah. Tidak banyak orang yang mau dan berani. Tetapi, seperti kata pepatah “di mana ada kemauan, di situ ada jalan”, ketika kita memiliki kemauan dan niat yang kuat, maka Insya Allah akan ada jalan menuju keberhasilan. Tentunya usaha tidak akan lengkap jika tidak diiringi dengan do’a. Selamat untuk Pak Hidayat atas kesuksesannya dengan usaha IPPO Fried Chicken ini. Semoga sukses selalu dan dapat menginspirasi orang lain.
Salam.
Semoga nanti yang diajarkan dari Pak Hasnul, adalah lebih banyak dari pengalaman dan kenyataan lapangan yang pernah dialami oleh pak Hasnul sendiri, sebab itu lebih menarik dari hanya textbook pak.
Thx
Pak Bambang Wahyunanto, terima kasih atas opini dan dukungan Anda.
Bagus Pak jika pengalaman Bapak yang sangat berharga bisa dishare kepada generasi bangsa, sehingga akan lahir Hasnul lain dan CEO lain yang bisa ikut bersama membangun negara ini. Sukses selalu.
Semoga bisa memberi manfaat bagi generasi bangsa. Terima kasih atas doa dan dukungannya, Pak Heru Sutadi.
Suatu Panggilan yang Mulia sekali, tidak semua orang memiliki jiwa terbuka dan rela berbagi seperti Bapak. Menjadi Dosen ataupun tenaga pengajar tidaklah semudah yang kita semua bayangkan (paling tidak saya bayangkan), namun begitu banyak hal baru yang bisa kita dapatkan dalam berbagi ilmu, bagian terpenting adalah ikhlas dalam memberi, maka harapannya kita juga akan banyak mendapat dari yang lain.
Pak Ardi Puji Hariadi, opini yang menarik dan menginspirasi. Semoga cita-cita saya tersebut dapat terlaksana nantinya. Terima kasih atas doa dan dukungannya. Salam.
Wah progra Xtra Learningnya bagus sekali pak, mengajar juga merupakan drill yang bagus untuk mengembangkan future leaders, seperti Indonesia Mengajar-nya pak Anies Baswedan
Terima kasih atas apresiasinya. Semoga program ini dapat memberi manfaat positif.
Salam Kenal….
Salut Buat Bapak!
Pilihan untuk berbagi pengetahuan merupakan suatu yg memang harus dilakukan. mengingat bapak seorang profesional, share pengalaman sangat dibutuhkan khususnya bagi saya yg masih menimba ilmu.
sukses buat qta semua…
Salam kenal, Pak Ahmad Hariyadi Fadli. Terima kasih atas doanya, semoga kita semua sukses.
Senang ya Pak.. kalau kita punya suatu tujuan di masa mendatang. Apalagi kalau itu adalah melakukan sesuatu hal baru yang sesuai dengan minat dan kemampuan kita. Menurut saya itu sebuah cita-cita. Tujuan dan cita-cita bisa membuat hidup kita semakin berarti dan lebih bersemangat. Saya sendiri punya cita-cita juga di masa yang akan datang, pengennya sih bisa jadi penulis. Walaupun sekarang masih tahap belajar menulis lewat blog. Dan masih harus banyaaak…. sekali belajar dari tulisan2 dan buku2 yang ada. Untuk saat ini cukuplah dulu menulis lewat Blog
sukses selalu ya Pak.. salam.
Cut Ratu, terima kasih sekali telah mau berbagi opini. Menulis melalui blog ataupun melalui buku menurut saya sama saja jika memang niat dan tujuannya positif. Semoga sukses.
Wah Pak Hasnul memang hebat. Dimana pun Bapak berada ibaratkan sinar yang menerangi kegelapan. Di Indosat cerah, Telkomsel cerah dan sekarang Bapak telah membawa XL menjadi terang benderang. Selamat ya Pak. Yang penting bagi2 ilmunya untuk kemajuan Indonesia.
Terima kasih atas apresiasinya, Komang. Kesuksesan itu tentunya adalah hasil kerjasama tim, selain saya juga ada teman-teman tim yang solid dan hebat. Semoga kita semua mampu membawa kemajuan bagi Indonesia.
Luar biasa pak Hasnul.
Ditengah kesibukannya sebagai CEO XL masih sudi membagikan ilmunya kepada orang banyak. Materi tentang strategi bisnis dan leadership memang sangat
Kebetulan saya saat ini sedang menangani lembaga yang melakukan pembinaan terhadap para mahasiswa berprestasi. Ingin rasanya saya mengundang bapak menjadi pembicara di tempat kami jika bapak Hasnul berkenan.
Boleh saja kok, Pak Rudy Kurniawan.
Assalamu’alaikum wrb pak Hasnul,
Apo kaba bapak?
wah senang sekali membaca tulisan bpk Hasnul yang punya keinginan untuk menjadi guru/dosen. dan itu insya Allah akan mudah bpk Hasnul jalani dengan background CEO dan kemampuan yang istimewa.
Saya yakin, jika someday bpk Hasnul menjadi pendidik, akan bisa mencetak generasi-generasi CEO yang handal dan unggulan, baik dari segi IQ dan ESQ (Iman dan Taqwa)
-Salim
Amiin. Terima kasih atas doa dan niat baiknya, Pak Salim.
Assalamu’alaykum WarahmatuLlahi Wabarakatuh
InsyaLlah keinginan dan cita-cita pak Hasnul menjadi dosen, dapat terlaksana dalam waktu dekat ini. Sesuai pembicaraan kita tadi (kamis 5 mei 2011) menuju kendaraan bapak, seusai acara HR Cafe Forum di Central Park Jakarta, yang di selenggarakan KUBIK Training.
Dengan menjadi dosen, insyaLlah ilmu dan pengalaman pak Hasnul dapat menjadi warisan yang sangat berharga.
Jika berkenan, silahkan pak Hasnul berkunjung ke pondok kami di: http://buyanur.com
Wassalamu’alaykum
Noval Y. Ramsis
Amiin. Siap pak. Akan diupayakan.
Semoga keinginan Pak Hasnul tercapai, amin. Saya juga punya keinginan untuk menjadi guru, suatu hari nanti. Semoga.
Sukses selalu untuk Bapak.
Terima kasih atas doanya. Semoga tercapai keinginan untuk menjadi guru, amin. Sukses juga untuk Anda.