Posted on October 12th, 2010
Kali ini saya ingin bercerita mengenai pentingnya menyiapkan pengganti jika kita menjadi pemimpin atau sampai di puncak. Sebab seorang pemimpin tak hanya memikirkan bagaimana agar perusahaan atau organisasi yang dipimpinnya bisa berkembang dan maju, namun secara personal, dia juga bertanggungjawab menyiapkan calon yang akan menggantikannya kelak.
23 tahun lalu, saat saya pertama kali menjabat sebagai manager di Indosat, saya punya pengalaman menarik. Di sela-sela rapat mingguan, salah seorang direksi Indosat yang biasa dipanggil Pak Cacuk (alhamarhum Cacuk Sudaryanto), menyapa saya sembari bertanya, ”Hasnul kamu kan sekarang jadi Manager, sudah ada pengganti belum yang disiapkan? Siapa nama calon pengganti kalau kamu dipindah atau dipromosi?”.
Pertanyaan itu cukup mengejutkan saya. Bagaimana tidak, pengangkatan saya sebagai manager juga baru sepekan. Lalu saya bilang, ”Apakah ini nggak kecepatan pak?” Pak Cacuk menjawab, ”Ya harus sudah ada yang disiapin sebagai pengganti kamu”.
Bagi saya, pertanyaan itu rada aneh dan ekstrim, karena baru saja diangkat kok sudah ditanya siapa calon pengganti. Pak Cacuk memang terkenal dengan kemampuan manajerialnya yang luar biasa. Beliau adalah salah satu sosok yang banyak mempengaruhi saya dalam hal manajemen.
Belakangan saya baru sadar, kalau seorang pemimpin apakah itu di level manager atau direktur sejak awal harus menyiapkan orang calon pengganti. Tujuannya adalah supaya terjadi kesinambungan kerja dalam pencapain visi misi perusahaan. Bila kelak kita berhenti, promosi atau pensiun, sudah ada orang yang siap mengisi posisi kita sehingga tidak terjadi kekosongan dan kesinambungan kebijakan bisa terjaga.
Dengan menyiapkan sejak dini, seorang calon pengganti akan mantap menjalankan tugasnya. Sejak awal kita sudah melibatkan dia dalam berbagai kegiatan perusahaan baik yang sifatnya teknis maupun terkait dengan level kebijakan. Bagi kebanyakan orang, ini mungkin rada aneh, tapi perlu dipertimbangkan.
Kejadian sama juga terjadi ketika saya masuk XL. Begitu masuk, saya sudah diperkenalkan dengan program Talent Management. Talent adalah orang – orang yang mempunyai kualitas terbaik yang dibangun dan dibina oleh sebuah perusahaan guna proses jangka panjang. Merekalah yang akan menjadi penerus bisnis perusahaan kelak. Mereka calon pengganti semua lini, manager, GM, VP sampai dengan Dirut.
Nah, mereka ini akan dibina oleh perusahaan agar dapat menjadi generasi penerus perusahaan. Proses pembentukan talent membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tidak semua karyawan memiliki talent atau bakat memimpin. Karena itu pemimpin perusahaan harus bisa mengidentifikasi karyawannya yang memiliki talent dan mengembangkannya.
Talent yang saya maksud itulah orang yang disiapkan untuk menggantikan atasanya kelak. Kalau idenya Pak Cacuk disampaikan secara tidak formal dan tidak dilembagakan, di XL hal itu dilembagakan.
Dalam proses pencarian talent, semua orang diindetifikasi. Selanjutnya dilakukan proses seleksi. Dalam proses test itu akan tersisa beberapa orang yang akan menjadi calon talent. Mereka kemudian akan diberikan penguatan kapasitas kepimpinan baik melalui proses training, pendidikan, rotasi kerja , coaching dan sebagainya. Namun tak banyak perusahaan yang melakukan hal ini, karena tak semua pemimpin bisa menerima konsep ini.
Saya sendiri sebagai Presiden Direktur XL sejak awal sudah merasa harus menyiapkan calon pengganti. Demikian pula setiap Direktur sampai manager XL harus tahu siapa calon pengganti mereka. Tentu saja siapa-siapa calon pengganti itu tidak semua karyawan tahu.
Saat ini sudah ada dua calon pengganti yang setiap saat siap mengganti saya. Bagi kebanyakan kalangan mungkin ini konsep dinilai agak aneh, karena rawan konflik, dan sarat dengan nuansa politis. Tapi di XL, hal ini sudah dilembagakan, sehingga harus dijalankan demi keberlanjutan dan kemajuan perusahaan.
Nah, jika anda saat ini adalah leader sudahkah menyiapkan calon pengganti?
Assalamu’alaikum Pak Hasnul,
Artikel yang sangat inspiratif dan menarik pak.
cuma menggelitik saya untuk menyampaikan pertanyaan :
Kalau kita diposisi pemimpin, memang kita harus menyiapkan calon pengganti kita agar bisnis bisa jalan terus…tapi pada saat kita diposisi bawahan, boleh tidak.. kita berfikir siapa atasan yang akan kita gantikan atau kita hanya menunggu kalau kalau kesempatan datang.
Terimakasih & Wassalam
Wassalam Alaikum Wr Wb,
Terimakasih atas apresiasinya, semoga posting saya bermanfaat. Boleh-boleh saja pak, bahkan itu bisa menjadi motivasi untuk berbuat yang terbaik dan terus membekali diri Anda dengan berbagai pengetahuan. Semoga apa yang diimpikan tercapai..
Wassalam
Sungguh sangat menjadi inspirasi saya Bapak Hasnul, untuk menjadi sebuah motivasi saya untuk bisa mengambil pengalaman apa yang pernah Bapak alami beberapa waktu yang lalu.
Senang sekali bisa mendapatkan ilmu dari Bapak Hasnul, dengan berbagai pengalamannya di dunia telekomunikasi.
Terima Kasih,
Rika Verry Kurniawan
0877360032**
Rika,
Terimakasih atas apresiasinya, semoga posting saya bermanfaat.
Setuju sekali pak, di perusahaan saya yang sebelumnya juga pernah dipimpin Alm. Pak Cacuk (TELKOM) juga punya konsepsi yang sama bahwa setiap leader sudah harus punya calon penggantinya, namun baru dalam taraf konseptual. Di XL tercinta ini sudah melangkah lebih jauh dalam implementasinya secara akademik.
Usul satu hal pak yang mungkin akan semakin menyempurnakan implementasi penyiapan talent2, yaitu himbauan utk semua yang sudah menjadi leader di XL utk selalu menjadi contoh yang baik bagi orang disekitarnya (menanam value) tidak hanya dalam kepiawaian bekerja di bidangnya namun juga dalam perilaku kesehariannya. InsyaAllah kalau ini terwujud value corporate XL akan semakin baik karena punya orang2 yang “professional dan baik”.
Terimakasih
Speed, Spirit and Pray
Pak Joedi,
Pak Cacuk adalah salah satu sosok yang banyak mempengaruhi saya dalam hal manajemen, termasuk soal perlunya kita menyiapkan calon pengganti kita sejak awal kita menjabat.
Terimakasih atas masukannya yang sangat bermanfaat. Saya setuju pak, seorang pemimpin harus menjadi suriteladan yang baik bagi orang di sekitarnya.
Wassalam,
Selamat Pagi Pak,
Sangat sependapat pak. Saya mengenal calon pengganti dengan istilah “second man”, Mohon pencerahan untuk beberapa hal berikut:
1. Apakah calon pengganti yang dimasukan ke dalam talent pool boleh lebih dari satu pak? misalkan berdasarkan performance ada lebih dari satu subordinate kita yg berpotensi untuk dipromosikan kelak.
2. Apakah jika sudah kit apersiapkan calon pengganti, saat kita leave, trip, PIC harus selalu ke yang bersangkutan? atau sebaiknya kita tetap bisa bagi dengan subordinate yang lain, dengan maksud untuk pengembangan?
demikian pak, terima kasih…
salam,
Kusaw
Pak Kusaw,
calon pengganti kita sebaiknya lebih dari satu orang, supaya kalau satunya berhalangan masih ada satu alternative pengganti, karenanya sendiri saat ini sudah menyiapkan dua calon pengganti yang setiap saat siap mengganti saya. Poin ke 2, tidak harus selalu yang bersangkutan (calon pengganti) tapi bisa juga yang lainnya untuk pengembangan, tinggal kita melihat minat, kemampuan masing-masing staf. Terima kasih.
Awal membaca judul ini saya terpikir, “wah apa pak Hasnul mau undur diri nih dari XL dlm waktu dekat?”
Semoga pengganti yang telah disiapkan dapat meneruskan prestasi spektakuler selama kepemimpinan bapak.
Tulisan yang menginspirasi pak, semoa terus berprestasi
Regards,
Saya sudah menduga mengenai hal ini, tapi posting diatas hanya sekedar mengingatkan penting kita sebagai pemimpin menyiapkan calon pengganti sejak awal menjabat, demi kelanjutan visi dan kemajuan peruasahan. Terimakasih.
Pak Hasnul, menurut saya program talent ini sangat bagus bisa memicu para karyawan bersaing utk menjadi seorang talent. Tetapi ini juga mungkin akan menjadi pertanyaan bagi karyawan yang berminat menjadi seorang specialist/ahli di bidangnya. Kalau saya amati di Indonesia ini kebanyakan utk seorang specialist masih kurang dihargai dibandingkan level seorang pemimpin. Contohnya banyak yang dikirim keluar negri utk menjadi master atau doktor, begitu kembali tidak dimanfaatkan, sebagimana mestinya. Mau tidak mau untuk mendapatkan jenjang yang lebih tinggi harus ikut bersaing utk menjadi seorang talent, dimana menurut saya hal ini kurang baik. Mungkin ini sedikit masukannya. Mudah-mudahan ke depannya banyak perusahaan yang membuat talent bagi specialist. Terima kasih.
Pak Eri,
Terimakasih atas masukannya, tapi kalau menurut saya, untuk menjadi seorang pemimpin masa depan, tidak perlu dia harus ahli disatu bidang saja, tapi dia harus memiliki banyak pengetahuan akan berbagai hal, karena di XL.
Manajemen XL sendiri sudah membuat aturan, bahwa untuk promosi ke level yang lebih tinggi seperti GM (General Manager), persyaratanya minimal harus melewati dua tempat atau job misalnya pernah di bagian network, belakangan dirotasi ke bagian marketing dan sabagainya. Karyawan yang tidak memenuhi persyaratan ini, tidak bisa dipromosikan ke level yang tinggi. Ini sudah diuji coba dan akan diterapkan dengan lebih disiplin ke depannya.
Wassalam,
Semangat Pagi, Pak!
Kalau boleh saya menambahkan, siapapun kita dalam posisi apapun juga. Harus mempunyai calon pengganti. Calon ini harus mulai dibina dan disesuaikan dengan proporsional. Suatu saat pasti akan diperlukan, karena apapun itu selalu ada mulai dan ada akhirnya.
Salam,
Betul sekali Pak Rimansyah,
terimakasih atas komentarnya yang menyempurnakan posting saya.
Wassalam
good concept….masuk kategori anticipate…:)
Ya betul, terimakasih.
terima kasih pak… saya sangat setuju dengan ide menyiapkan calon pengganti.. walau saya hanya sebagai staff bawahan di XL..namun ini sudah sering saya lakukan sejak SMA di bidang ke agamaan th 94 an … pada saat ada perkembangan/peningkatan murid yg kita telah didik (istilah di perkumpulan gereja) siap diangkat menjadi pemimpin pengajian… namun dalam memilih kita juga perlu hikmah bijaksana agar orang yg kita persiapkan benar2 berpikir untuk kemajuan perusahaan & kesejahteraan karyawan bkn yg mementingkan diri sendiri dan “teman2″ nya…
warm regards
dane
Ya betul sekali, seorang pemimpin yang baik harus bijaksana, termasuk dalam menyiapkan calon penggantinya yang diharapkan bisa menjalankan roda perusahaan, agar tetap berkesinambungan bahkan lebih maju dari pemimpin sebelumnya.
Terimakasih.
Assalamu’alaikum Pak Hasnul,
Artikel yang sangat menarik, inspiratif dan mengingatkan saya akan kejadian yang saya alami beberapa waktu lalu Pak. Ketika salah satu GM menawarkan sebuah posisi di divisinya yang sebenarnya saya sangat menginginkan posisi tersebut. namun saya sadar akan sangat egois jika saya terima dan meninggalkan divisi saya sekarang tanpa memikirkan roda divisi yang saya tinggalkan. sejak saat itu saya fokuskan develope 1 staff saya yang memang paling potensial. saya tetap semangat jalani kerja yang sekarang sambil berharap akan ada tawaran lain disaat staff saya sudah siap secara skill, mental, knowledge dan motivasi.
Terimakasih Pak Hendra, sudah mau sharing, tapi kalau menurut saya sebaiknya kita menyiapkan calon pengganti lebih dari satu orang supaya ada alternative pilihan, sehingga satu berhalangan karena mungkin ada beberapa sebab, masih ada satu orang lain yang juga bisa mengganti kita kelak.
Saya sendiri saat ini sudah menyiapkan dua calon pengganti yang setiap saat siap mengganti saya. Semoga harapan Pak Hendra tercapai.
Menarik Pak….. menurut saya, yang lebih esensial sebenarnya adalah menyiapkan “penerus/pelanjut”, bukan “pengganti”. Karena pengganti lebih dekat arahnya dengan ‘posisi’ sementara ‘pelanjut’ lebih dari itu adalah ‘penjaga keberlangsungan visi.
Bukan berarti saya tidak sepakat, hanya saja saya tidak menafikkan adanya pertimbangan politis kalau menyangkut posisi. ‘pelanjut’ kita harapkan tetap melanjutkan menjaga visi/misi meskipun dia tidak mendapat ‘posisi’ kita.
Pada prinsipnya dan subtasinya sama. Maksud saya menyiapkan calon pengganti sejak awal agar yang bersangkutan bisa memahami dan bisa betul-betul menjalankan visi dan misi perusahaan. Terimakasih.
Menarik sekali Pak Hasnul, suatu motivasi u saya terus mengembangkan kemampuan saya pribadi untuk bisa mengembangkan bawahan saya juga.
Saya sendiri berpikiran kalau anak buah saya tidak bisa naik dari posisi sekarang apabila ada kesempatan, artinya suatu kegagalan bagi saya sebagai pemimpin mereka. Apakah bisa seperti itu kira2 pak ?
Pak Swandi,
Semoga posting saya bermanfaat. Saya setuju dengan motivasi Anda, namun soal keberhasilan kadersasi kepimpinan juga sangat tergantung pada yang bersangkutan, apakah dia punya niat kuat untuk berkembang dan maju menjadi pemimpin. Terimakasih.
wah pak hasnul mau cabut dari XL & ditarik ke institusi pemerintahan yg lebih strategis yah pak….
kesan pertama itu yang saya tangkap pak..
semoga kaderisasi di XL tetap berjalan baik dan membawa XL ke value yang terus lbih baik,,,
Berjuang terus untuk achieve target
Berharap bonus yang jumlahnya bikin kaget
Sukma,
Saya tidak hendak cabut dari XL dalam waktu dekat, tapi posting ini hanya mengingatkan pentingnya seorang pemimpin termasuk saya menyiap calon pengganti sejak awal menjabat sebagai manager atau presiden direktur. Soal bonus kejutan akan selalu ada, jika pendapatan XL terus meningkat. Semoga.. Amiin.
Setuju sekali P Hasnul, kaderisasi harus selalu dipikirkan & dijalankan. Rosululloh SAW pun mencontohkan dgn mempersiapkan keempat sahabatnya sayyidina Umar, Ali, Abu Bakar & Usman.
Seorang pemimpin yg ideal, harus memiliki 5 poin yg sesuai diajarkan Rosululloh SAW :
1. DICINTAI. Karena akhlaknya yg mulia.
2. DIPERCAYA. Karena memiliki integritas yg tinggi.
3. DIIKUTI. Karena sering menolong.
4. KADERISASI. Memikirkan penerus karena di dunia ini tidak ada yg abadi.
5. PEMIMPIN ABADI. Meskipun sudah tdk menjabat lagi atau meninggal, namanya akan selalu harum & diingat sepanjang masa.
Betul sekali, dalam pribadi Nabi Muhammad SAW banyak hal yang bisa kita jadikan contoh termasuk dalam hal kepimpinan, bagaimana Rasullah mempersiapkan calon ke sempat sahabatnya menjadi pemimpin.
Terimakasih atas sharingnya yang sangat menarik.
Ada ungkapan menarikIng ngarso sung tulodho Ing madyo mangun karso Tutwuri handayani
Mas Aan,
itu ungkapan yang sangat menarik dari, Ki Hadjar Dewantara, yang bisa dipakai untuk memahami arti kepimpinan.
ing ngarso sung tulodho = ketika di depan publik, kita harus bisa memberikan contoh atau teladan yang baik pada yang lain
ing madyo mangun karsa= ketika di tengah atau di antara publik, kita harus ‘mangun karso’ bekerja keras dan membangun kinerja yang baik.
tut wuri handayani= ketika kita ada di belakang, kita harus memberi semangat dan motivasi/support/dorongan buat yang lainnya.
…………..
Mas Aan, saya baru mampir ke blog Anda, ternyata banyak yang menarik ttg CEO, saya juga sempat membaca posting Anda tentang saya. Terimakasih.
Pak Hasnul, terima kasih sharingnya karena artikel ini sungguh memotivasi dan menambah wawasan kami. Seorang Leader sejati harus menyiapkan penggantinya karena dalam perusahaan yang sudah maju tentu saja harus disiapkan Leader berikutnya dengan baik supaya perusahaan tersebut tetap mampu bersaing dalam persaingan yang sangat ketat seperti dalam industri telekomunikasi di Negeri. Salam sukses Pak……
Terima kasih juga Pak Dodyk sudah memberikan komentar yang menarik. Semoga artikel saya bermanfaat. Amin.
Sharing yang sangat bagus pak. Hal ini kalo menurut saya bukan hanya di Perusahaan namun bisa kita coba jalankan pelan-pelan di Keluarga. Saya setuju sekali dengan calon pengganti. kalo boleh di istilahkan ” Wingman”. Karena ada orang tua yang mengatakan bahwa Leader yg ok adalah menciptakan Leader-leader yg baru.
Pak Adi, terima kasih atas apresiasinya dan komentarnya. Betul sekali leader yang oke adalah menciptakan leader-leader yang baru.
Mengutip pertanyaan dari sebuah journal “‘Do great Senior Executives make great coaches?’’(Hammett, 2008)
Persitiwa yang terdekat dilingkungan kita adalah, ketika raport TPA anak memunculkan suatu pertanyaan “Sudahkah saya menjalani fungsi sebagai orang tua dengan baik dan benar sesuai yang di amanahkan Allah?”. Sebagai pimpinan keluarga, pertanyaan tersebut adalah satu dari banyak pertanyaan yang belum mampu kita jawab dalam waktu dekat. Salah satu pendekatan yang sedikit melegakan hati kita sebagai orang tua adalah coaching is becoming a solution.
Terimakasih atas komentar dan sharing kutipannya yg menarik, memang kita harus menjadi pemimpin yang membimbing, memberikan bekal baik dalam lingkungan kantor maupun lingkungan keluarga sebagai kepala rumah tangga.
Assalammu ‘alaikum Pak Hasnul,
Saya bukan seorang leader pak, saya karyawan yang sangat bersyukur bisa punya pemimpin seperti bapak yang sangat berlapang dada sebagai sosok pemimpin yang tinggi dalam menyikapi persiapan pengganti. tidak merasa takut akan perubahan dan pergantian tetapi sangat amanah kepada perusahan. Saya sangat setuju dengan konsep “persiapan pengganti” karena kita tidak pernah mengetahui hari esok. Hal ini tentu saja membuat para pemimpin dengan rendah hati menurunkan ilmu-ilmu kesuksesannya kepada staff untuk bisa mempersiapkan dirinya kelak untuk menjadi pemimpin.
wassalamu ‘alaikum
Wassalam Alaikum Wr Wb,
Terimakasih atas atas apresiasinya dan komentarnya. Itu sudah menjadi tanggungjawab seorang pemimpin, memberikan bekal dan menyiapkan calon pengganti.
Wassalam
Alhamdulillah……….tulisan bapak memberi pencerahan bagi saya, untuk tidak berjalan di tempat dan takut untuk melangkah. memang harus ada sosok pengganti yang harus kita lahirkan, karena justru hal itu lah yang menjadi cambuk bagi kita untuk meraih yang lebih besar dan agar tidak cepat puas dengan apa yang telah kita genggam, karena sesungguhnya perjalanan ini masih teramat sangat panjang……….
Ibu Fieda, terima kasih atas apresiasi dan komentarnya. Semoga posting saya bermanfaat. Salam sukses bu.
Saya juga ingat saat Bapak Cacuk meresmikan sekolah kami, STM Telkom tahun 1992, saat teleconference “satu dolar yang ditanam pada kalian, sepuluh tahun akan menjadi seribu dolar”. Konsep 321 itu yang luar biasa. Semoga Pak Hasnul bisa melanjutkan visi dari Alm. Pak Cacuk. Sukses selalu untuk Bapak.
Pak Cacuk memang terkenal dengan kemampuan manajerialnya yang luar biasa, termasuk dalam hal investasi.
Beliau adalah salah satu sosok yang banyak mempengaruhi saya dalam hal manajemen. Insya Allah. Amiin.
Sangat jarang langkah yang dilakukan XL dijalankan institusi lain. Semoga tulisan Pak Hasnul ini jadi inspirasi bagi pembuat kebijakan di perusahaan/institusi lain.
Memang betul sekali konsep ini tak banyak perusahaan atau institusi yang menerapkan, tapi di XL, hal ini sudah dilembagakan, sehingga harus dijalankan demi keberlanjutan dan kemajuan perusahaan. Semoga. Terimakasih.
Heebbaattt…
Memang begitulah seharusnya konsep manajerial pada sebuah organisasi yang mempunyai visi…
Tapi bagaimana caranya agar kita bisa menjadi salah satu orang yang disiapkan sebagai calon pengganti atasan kita??
Karena kerja cepat, tepat dan bermanfaat saja kayaknya tidak cukup.
Setiap pemimpin punya cara tersendiri untuk menyiapkan calon penggantinya. Termasuk info siapa karyawan yang dipersiapkan menjadi calon pengganti kelak, tak semua karyawan tahu akan hal ini.
Ya betul sekali, selain calon talent selain bisa diandalkan dalam bekerja, punya bakat memimpin, punya visi dan misi, yang tak kalah pentingnya adalah dia harus jujur, kata orang bijak, kejujuran adalah investasi yang berlaku dimana-mana. terima kasih.
Halo Pak Hasnul, saya Natasha dari FEUI, pak.
Sebelumnya saya belum tahu kalau Bapak punya blog. Dan ternyata blog ini sangat inspiratif dan sering di update ya,pak. Sebagai blogger, saya memang kurang konsisten dalam membagi pemikiran dan pengalaman saya di blog. Sepertinya saya harus belajar banyak juga dari Bapak perihal ini.
Ya, saya setuju sekali pak akan konsep menyiapkan pengganti. Saya melihat ini juga sebagai salah satu wujud dedikasi dan cinta kita akan ‘keluarga’ yang telah membesarkan kita. Take and Give Theory. We’ve taken so much experiences and quality times, we’ve been grown a lot, then there must be part of us, calling us, to give; responsibility of sustainable future for the ‘family’. Satu hal lagi, ini juga bisa menjadi hal yang akan selalu mengingatkan kita untuk menjadi ‘legowo’, kalau suatu hari nanti, pasti akan ada saatnya menyudahi dan memberikan tongkat estafet pada mereka yang juga mencintai keluarga ini.
Natasha Virzana
FEUI
http://natessavirzana.wordpress.com
Ibu Natasha,
Terimakasih atas apresiasinya, semoga posting saya bermanfaat. Semoga Ibu Natasha makin semangat ngeblog.
Wassalam,
Hasnul Suhaimi
Semangat Pagi!!!
Sangat inspiratif Pak. Saya juga harus mulai mencari pengganti nih.. He he he.. Kalau boleh urun rembug, perlu digarisbawahi juga, calon pengganti haruslah orang yang mempunyai misi dan visi yang sama dengan pendahulunya. Yang mana calon ini dipastikan akan meneruskan pembangunan yang sudah dilakukan oleh pendahulunya. Dan saya rasa butuh waktu cukup lama untuk bisa menyamakan visi dan misi antara pemimpin terdahulu dengan penggantinya.
Memang agak sulit mencari pengganti yang seperti ini, namun kalau sudah punya, dapat dipastikan perusahaan yang dipimpin akan melaju dengan kecepatan penuh.
Salam hangat dari Cirebon
Terima kasih atas sharingnya, Pak Rudy Susanto Wijaya. Semoga dapat memberi manfaat buat pembaca yang lain juga.
Assalamualaikum.
Salam kenal Pak Hasnul. Saya mahasiswa Univ.Muhammadiyah Malang yang sangat menyukai teknologi, khususnya informatika, meski saya bukan dari jurusan tersebut. Saya sangat terinspirasi dari semua tulisan bapak. Untuk yang satu ini saya menilai bahwa almarhum Cacuk merupakan one of the best leader in Indonesia. Bisa dibilang beliau adalah “Steve Jobs”nya direktur (maaf, saya lupa perusahaannya, yang saya ingat, beliau pernah bekerja di IBM Indonesia) di Indonesia. Terima kasih atas tulisan inspiratifnya, dan semoga setiap mahasiswa bisa seperti beliau dan bapak.
Wassalamualaikum
Terima kasih atas komentarnya, Fuad Hussein. Semoga kelak Anda pun dapat menjadi salah satu best leaders in Indonesia.