Menunggu

Posted on June 21st, 2011

Comment: 21 Comments »

Sebelumnya saya pernah menuliskan bahwa mendengar adalah salah satu pekerjaan yang sulit. Selain itu, ada juga pekerjaan sulit lainnya, yakni menunggu. Kalau membahas tentang “menunggu’, biasanya akan erat kaitannya dengan “kesabaran”. Kesabaran orang tentunya berbeda-beda, begitu juga halnya dengan menunggu, kemampuan menunggu orang juga tidak sama. Kesabaran dalam menunggu ini tentunya berbeda dengan “kesabaran” yang lainnya, misalnya menahan emosi atau menahan penderitaan.

Menunggu tidak selalu bergantung kepada kesabaran. Ada hal-hal logis yang membuat kita harus menunggu tanpa bergantung dengan kesabaran kita. Misalnya program kerja. Setelah menetapkan program kerja dan menyiapkan tim, kita akan menghadapi progres dari program kerja tersebut dan menunggu hasil dari program tersebut.

Ada seni tersendiri dalam menunggu dalam konteks seperti ini. Evaluasi tentunya sangat penting. Namun waktu (timing) untuk melakukan evaluasi juga mesti tepat. Jika terlalu cepat, akan terkesan “buru-buru” dan bisa membuat tim menjadi tertekan. Juga bisa jadi programnya “belum jalan”, sehingga belum memberikan dampak atau indikasi perubahan. Namun, jika terlalu lama atau santai, bisa membuat tim jadi lengah atau membuat tim mengira bahwa pimpinan kurang serius. Atau malah sudah terlambat, kompetitor sudah beberapa langkah di depan. Kita tertinggal.

Beberapa produk dari XL misalnya, ada beberapa yang sudah menunjukkan hasil dalam 2 atau 3 minggu saja. Tetapi ada juga yang baru terlihat setelah 2 bulan. Tetapi hasilnya signifikan dan cukup fantastis. Bayangkan kalau produk yang fantastis ini dihentikan pada minggu keempat karena gegabah dan “tidak sabar” menunggu. Ini lah yang disebut sebagai buah manis dari menunggu.

Menunggu program kerja terkait dengan teori kepemimpinan yang membandingkan tipe pemimpin yang berbasis humanis (human-oriented) atau tugas (task-oriented). Tipe humanis mungkin lebih sabar dalam menunggu, namun bisa jadi terlambat dalam mengevaluasi. Sementara tipe berbasis tugas lebih gegas, namun beresiko gegabah dan membuat karyawan tertekan. Keseimbangan diantara dua kutub ini yang dipercaya dapat memberikan hasil yang optimal.

Tidak ada batas pasti untuk kesabaran dalam menunggu, itulah seninya. Batasnya bisa berubah-ubah sesuai konteks. (HS)

21 Responses to “Menunggu”

  1. Yazmin says:

    Baru beberapa saat yang lalu saya membatin soal “menunggu” ini…ternyata langsung ada pesan pak Hasnul yg kembali mengingatkan…alarm tepat dikirim kepada saya…Bapak benar sekali mengenai hasil diantara menunggu dan sabar ^__^ terima kasih pak…bravo terus XL Axiata!!!

  2. ady says:

    Ass Wr Wb.
    Pak Hasnul,
    mohon masukan bapak utk mengetahui apakah waktu menunggu bisa berubah karena pasar yng berubah juga?
    Tahun 2010 dan sebelumnya karena voice dan sms masih belum jenuh dibanding tahun 2011, maka result campaign nya dpt segera terdeteksi, yng berbeda dengan kondisi saat ini. Apakah ada perubahan waktu menunggunya menurut bapak.
    terima kasih sebelum nya
    wassalam
    Ady

    • Pak Ady, seperti pada artikel di atas: tidak ada batasan yang pasti dalam hal menunggu ini. Jangankan untuk pasar yang berbeda, di pasar yang sama namun dengan produk yang berbeda saja bisa berbeda pula waktu tunggunya. Semoga cukup menjawab.

  3. AR says:

    Jujur saya katakan, tema yg di-publis P Hasnul selalu menarik perhatian saya. Simple but so meaningful.

    Maaf Pak, kira2 apa yg bisa menjadi acuan kita kapan kita harus memilih Human-oriented, kapan task-oriented?

    Wassalam

    • AR, memang di antara kedua tipe kepemimpinan ini mesti seimbang untuk mendapatkan hasil yang optimal. Namun tentunya titik keseimbangan ini tidak absolut, bergantung terhadap karakter tim, jenis pekerjaan, dan juga lingkungan kerja. Ada trade-off ketika kita memilih salah satu atau keduanya.

  4. David says:

    Wah sepertinya Pak Hasnul cocok menjadi pemain catur tangguh. Jika melihat pecatur dengan buah putih melakukan raja rokade pendek, lalu raja bergerak dari g1 ke h1, itulah teori menunggu di permainan catur. Salah satu pecatur terkenal dengan kesabarannya untuk menciptakan posisional buah catur adalah Garry Kasparov. Tulisan Bapak bisa disimulasikan dengan permainan catur. Semoga XL bisa ikut mengembangkan olah-raga catur di Indonesia. Salam sukses untuk Pak Hasnul.

  5. Pak Hasnul, apakah kami boleh dishare tips2 Bapak mengenai seni menunggu, Pak. Seperti yang Bapak sebutkan bahwa ada pemimpin yang memiliki tipe human oriented dan juga task oriented, dan diharapkan setiap pemimpin bisa seimbang dalam mengaplikasikan dua kutub ini. Apa tipsnya yang selama ini Bapak lakukan agar action yang dilakukan oleh seorang pemimpin bisa tepat tepat dan berhasil. Pada saat kondisi seperti apa human oriented dijalankan, dan pada saat kondisi yang bagaimana tipe task oriented dijalankan. Terima kasih.

    • Christina, seperti jawaban untuk Saudara AR, ada beberapa faktor yang mesti diperhatikan dalam memilih tipe kepemimpinan ini, antara lain: karakter tim, jenis pekerjaan, dan lingkungan kerja.

  6. Fery says:

    Pak Hasnul,

    Excellent sharing pak. Menarik sekali.
    Satu pertanyaan pak, apakah ada tips buat meyakinkan shareholder atau atasan untuk menunggu sesuatu yg kita yakin akan impact nya ?
    karena sukses dari “menunggu” ini haruslah merupakan kontribusi dari semua elemen, dari atas sampai bawah.

    Wassalam,

  7. Semangat Pagi!!

    Article yang menarik Pak Hasnul.

    Tadinya saya punya pertanyaan sama seperti rekan Ady di atas. Dan sudah dijawab oleh Pak Hasnul. Apakah penentuan waktu menunggu itu berdasarkan feeling, atau ada alert-alert/batasan yang mana jika dilewati berarti keputusan kita “kurang tepat”?

    Trims atas pencerahannya Pak.

    Salam XL

  8. Rizki says:

    Artikel yang menarik pak. Menurut saya di saat ini industri telekomunikasi sangat ketat sekali persaingannya. Tidak ada plan A, plan B, dan Plan C. yang ada adalah sejuta kemungkinan pak. Jika kondisi X maka A sebagai actionnya, jika kondisi Y maka B sebagai actionnya, dst.

    Sukses selalu XL :)

  9. wahyudi says:

    menarik sekali artikelnya Pak Hasnul..kalo saya termasuk penganut faham lebih cepat lebih baik, karena menurut saya jika selesai sebuah urusan segeralah untuk menyelesaikan urusan yang lainnya..mengingat kita juga tdk.tahu apa yg akan terjadi detik berikutnya, maka knapa mesti kita menunggu?

    Terima Kasih,
    Salam kenal,
    Wahyudi

  10. Dear pak Hasnul,masih ingat ketika saya minta tanda tangan bapak di atas buku chinese mind milik saya…itu saya pak. Semoga bapak tidak lupa. Terima kasih atas inspirasinya sabtu siang tadi di trisakti grogol, saya merasa tercerahkan dengan ulasan bapak. Saya akan review kembali apa yang telah saya dapat tadi di blog pribadi saya. Terima kasih ilmunya, saya berencana akan membahasnya kembali dalam mata kuliah ekonomi manajerial bersama pak Hasmand. Pastinya, hal kami dapat ini akan didiskusikan bersama teman2 kampus di kantin…oh iya berkenaan dgn pertanyaan bapak bagaimana xl nantinya akan bersaing dalam menghadapi cafta agar tak hanya menjadi penonton saja, saya punya pemikiran sendiri…cina tak akan lepas dari unsur budayanya…mereka berkembang dari semangat budaya asal usul mereka, buku the chinese mind memberikan saya inspirasi. Mereka pnya smangat juang tinggi walau harus ditekan, mereka memperbaiki infrastruktur utk menaikkan daya ekspansi mereka. China terus mempelajari strategi dgn berbagai plan serta kemungkinan. Situasi ancaman maupun segala pengalaman jatuh bangun membuat daya intuisi mereka kuat. Usul pribadi saya:pelajari kembali budaya cina dan perkembangan aturan cafta. Kedua, pasar di negara kita akan masuk dalam dunia digitalisasi. Ketiga, xl mgkn perlu melakukan ekspansi pemberian pendidikan teknologi kepada masyarakat yg buta teknologi sekaligus mempromosikan xl.keempat, buat ekspansi pendidikan teknologi ttg teknologi ke dalam sekolah-sekolah smp hgg sma utk menciptakan sebuah citra baik. Kelima, jika xl akan bermain dalam negri saja, bapak perlu menciptakan citra bahwa xl punya perhatian dan kepedulian trhadap indonesia. Keenam, dicoba xl kedepan memberikan fokus pada content ttg inside motivator utk mendorong org menjadi entrepreneur. Mgkn itu dulu pak, tapi pastinya usul lain akan menyusul. Salam cinta saya seluas angkasa.

  11. mirza says:

    menunggu adalah pekerjaan yang paling saya benci, kalau bisa dilakukan sekarang knp tidak? karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi dimasa akan datang? jadi kalau bisa sekarang lakukanlah?

    • Terima kasih, mirza. Komentar yang menarik dan inspiratif.

    • freddy says:

      mungkin sedikit penjelasan bisa membantu
      maksudnya bila sudah siap tidak langsung umbar kemampuan
      bila berlomba maka harus finish, bila tabungan pemakaian yg efektip, bila anak panah bidik buruan yg tepat

      lustrasi
      seandainya janji ketemuan di BALI maka sudah di bali duluan bisa golf, makan di jimbaran, dll
      sementara yg ditunggu masih perjalanan, chek in hotel, dll
      jelas ya, menunggu dalam keadaan siap atau selangkah didepan

  12. Adrian says:

    Menarik sekali pak tulisannya ttg “Seni Menunggu”. Memang momen (timing) itu penting dlm bisnis, makanya butuh sense & feel yg bgs dr seorang entrepreneur agar produk launchnya sukses.

    Salam hangat :)

Leave a Reply