Connected Generation

Posted on February 17th, 2011

Comment: 19 Comments »
Hasnul Suhaimi dan Rhenald Kasali

Bersama Pak Rhenald Kasali

Teman-teman yang budiman, waktu terus berganti dan mungkin tanpa kita sadari telah tumbuh generasi di bawah kita yang akan semakin menunjukkan peranannya. Kali ini saya akan berbagi mengenai “connected generation” yang sedang menjadi topik hangat di kalangan pelaku marketing.

Pasar sudah berubah, seiring proses regenerasi masyarakat. Generasi-generasi sebelum sekarang — Baby Boomers, Generation X — sudah mulai menua dan meredup. Generasi yang lebih muda mulai mengambil alih. “Gen Y”, seperti yang ditulis Don Tapscott dalam buku Wikinomics; atau “C-Gen” (connected generation), seperti yang ditulis Pak Rhenald Kasali dalam bukunya Cracking Zone; atau “New Wave Generation” menurut Pak Hermawan Kertajaya adalah generasi era digital, generasi yang sangat dekat dengan teknologi informasi.

Industri teknologi tentu banyak menghasilkan perubahan-perubahan dalam kehidupan manusia yang diciptakan untuk mempermudah dan meningkatkan kualitas hidup. Namun, tidak sedikit pula orang yang sulit mengadopsi teknologi baru, atau bahkan menolak adanya perubahan. Youth, generasi muda, adalah kalangan yang gemar dengan segala sesuatu hal yang baru. Termasuk teknologi baru. Tidak heran jika kita melihat lebih banyak anak muda yang bermain-main dengan gadget daripada generasi yang lebih tua.

Hasnul Suhaimi
Saat di FEUI

Karena pasar yang sudah berubah ini, mau tidak mau, industri juga harus berubah dalam menghadapi pasar ini. Beda generasi, tentu pendekatannya juga akan berbeda. Strategi yang digunakan untuk mendekati generasi lama, tidak akan bisa digunakan untuk mendekati generasi baru ini. Butuh pendekatan yang berbeda. Untuk itu, industri mau tidak mau harus bisa mengerti karakter generasi ini.

Tentunya generasi muda ini kebanyakan masih berusia belia. Tidak banyak yang terlibat di industri. Karena itu, menurut saya, industri itu sendiri sebaiknya mulai menyerap generasi ini agar dapat lebih bisa mengerti pasar yang memang sebagian besar potensinya adalah generasi yang sama. Diharapkan, karena berkarakter sama, karyawan “C-Gen” ini mampu mengerti keinginan pasar.

Nah, bagi saya, sekarang sudah saatnya regenerasi di industri. Saatnya generasi pendahulu mendengarkan “C-Gen” ini. Memberikan kesempatan bagi mereka untuk maju ke depan dan berkarya. Namun, kita sebagai generasi sebelumnya harus tetap memberikan dorongan dan dukungan bagi mereka.

Topik ini cukup menarik. Saya akan mencoba melanjutkannya di kesempatan berikutnya. Silahkan jika anda ingin memberikan masukan. Semoga bermanfaat.

19 Responses to “Connected Generation”

  1. dani says:

    Betul sekali pendapat pak Hasnul…yang namanya perubahan pasti abadi …dan siapapun yang tidak menyukai perubahan pasti tersingkir …sudah saatnya yang muda-muda dipercaya untuk memegang kepercayaan dan wewenang yang lebih besar ….sehingga roda organisasi bisa lebih kencang …kayak F1…he he ..

    • Hasnul Suhaimi says:

      Pak Dani,

      Benar, pasti selalu ada perubahan di dalam hidup ini. Jika tidak ada perubahan, maka kita hanyalah diam di tempat. Hanya saja, perubahan ini ada yang cepat dan ada yang lambat.

      Terima kasih atas tanggapannya.

  2. Betu Bapak, banyak sekali perubahan yang terkadang membuat terkejut generasi sebelumnya, sebagai contoh, anak saya yang baru kelas 1 SD memasukkan “pulsa” sebagai kebutuhan pokok yang nomor sekian, hehehhehe.

    Akhir-akhir Ini sibuk yah pak?, blog belum banyak berubah.

    • Hasnul Suhaimi says:

      Pak Bambang Wahyunanto,

      Maaf sebelumnya, akhir-akhir ini memang kesibukan saya sedikit meningkat. Mengenai “pulsa”, memang kalau kita lihat di lingkungan kita saat ini, dunia telekomunikasi seluler sudah menjadi salah satu bagian yang tak bisa dilepaskan dari hidup kita. Tak heran jika anak-anak pun bisa berpikiran seperti itu.

      Terima kasih atas komentarnya.

  3. Jerry says:

    C-Gen kadang membutakan generasi skrg pak,bukannya memanfaatkan dan memaksimalkan IT yg ada tpi cuma terhnayut dibawa teknologi.

    • Hasnul Suhaimi says:

      Pak Jerry,

      Karena itu lingkungan keluarga dan masyarakat dibutuhkan perannya dalam mengawasi C-Gen ini.

      Terima kasih atas komentarnya.

    • Dear pak,
      Kalo menurut saya, c-gen tak bisa disalahkan karena hidup ini terus maju dan berkembang menuju hal yg lebih praktis. Artinya perkembangan jaman terus mendorong orang utk semakin praktis dan memang menjadi sedikit dimanja. Kemudahan fasilitas teknologi menjadi alternatif. Contoh banyak anak usia sd sudah punya ipad, blackberry dan laptop. Mereka senang utk berkoneksi dan mencari hal-hal baru dalam bersurfing.bahkan guru-guru disekolah mulai meminta anak muridnya membuka dunia internet utk mengerjakan tugas2 mereka. Memang benar kata bapak “yang dekat jadi jauh, yang jauh jadi dekat!” But that’s a life, karakter masyarakat sekrang terbentuk. Saya setuju dgn bapak jika anda merekrut org yg berkarakter mirip gen-c, karena mereka yg tahu kemauan generasi muda saat ini. Ipad, laptop, warnet cenderung dipakai lebih condong ke arah game, dan mereka bisa menghabiskan waktu yg lebih lama. Mgkn ada saran baik jika xl memberikan konten yg berbasis pendidikan. Banyk yg pakai teknologi namun lemah utk menemukan pendukung pengetahuan yg dapat diacu…mgkn xl dapat membuat sebuah encyclopedia eletronic sendiri. Sukses selalu. Rekomendasi buku cracking zone dan marketing 3.0. Trims

  4. Cut Ratu says:

    Terus terang baru denger istilah Connected Generation dari blognya pak Hasnul nih. kayaknya termasuk ponakan2 saya didalamnya nih…Nice share Pak..ditunggu lanjutannya ;-)

    • Hasnul Suhaimi says:

      Cut Ratu,

      Istilah “Connected Generation” memang masih tergolong relatif baru. Dan benar, keponakan Anda bisa jadi tergolong “Connected Generation”. Terima kasih atas komentarnya.

  5. Widi Asmoro says:

    Sejak hadirnya YouTube,facebook dan twitter geliat connected generation makin menjadi. Dengan mindset ‘co-creation’ setiap orang bisa kreatif menghasilkan karya baru dengan bermain-main seputaran brand. tantangannya sekarang bagaimana menyuburkan ekosistem tadi dan bagaimana make profit. terutama para ‘start-up’ lokal yang sebenernya lebih paham dengan market Indonesia sendiri yang mana hampir separuh dari lalu lintas pengunjung di situs-situs social network itu berasal dari negaranya, Indonesia

    • Hasnul Suhaimi says:

      Pak Widi Asmoro,

      Ya, benar. Kini masyarakat sudah mulai bergeser dari konsumen menjadi prosumer. Yakni konsumen yang kemudian juga menjadi produsen, ataupun seperti yang Pak Widi bilang: co-creation.

      Terima kasih sudah mampir dan memberikan cerita dari sisi lain.

  6. [...] saya dulu itu menjadi terbalik ketika saya bertemu dengan C-Gen. Seperti yang pernah saya ulas di tulisan sebelumnya, C-Gen ini bisa dibilang sebagai digital [...]

  7. lisa says:

    Salam kenal Pak Hasnul. Saya tertarik dengan istilah C-Gen. Saya ingin bertanya, perbedaan C-Gen dengan Era Golden? Karena produk2 terutama susu, menggunakan istilah anak sekarang adalah era Golden. Sehingga, saya (yg kebetulan sebagai editor) harus memutar otak untuk membuat buku anak yang pas dengan era Golden tsb. Mungkin pembahasan tentang C-Gen ini bisa diperdalam Pak, saya ingin lebih mengetahuinya. Terima kasih.

    • Hasnul Suhaimi says:

      Ibu Lisa, untuk lebih jelasnya mengenai C-Gen ini mungkin dapat mengacu ke buku Pak Rhenald Kasali yang berjudul “Cracking Zone”. Terima kasih atas komentarnya.

  8. Eva Indriasari says:

    Betuul Pak.. Setuju sekali..

    Memang memasukkan generasi C_Gen ke dalam industri memang harus dilakukan, dan tidak cukup hanya secara sepihak, tetapi oleh masing2 pihak dalam industri yang saling terkait, karena terkadang masukan-masukan dari C-Gen yang mungkin bisa sangat berarti bisa mental jika bertemu dengan generasi yang berbeda yang memiliki penolakan terhadap perubahan..

    • Hasnul Suhaimi says:

      Opini yang menarik, Ibu Eva Indriasari. Terima kasih sudah sudi meluangkan waktu untuk mampir dan berkomentar di sini.

  9. [...] Harus bertransformasi menjadi digital cheetah untuk mengejar pasar yang semakin dikuasai oleh para C-Gen, di mana layanan data lebih dominan serta layanan voice dan SMS semakin [...]

Leave a Reply