Cita-cita

Posted on January 9th, 2010

Comment: 9 Comments »

Apakah anda punya cita-cita? Apakah cita-cita anda telah tercapai? Apakah jabatan atau posisi yang anda capai saat ini sesuai dengan cita-cita dulu semasa SD atau SMP?

Tidak jarang saya mendapatkan pertanyaan apa sebenarnya cita-cita saya? Tentu, dulu saya juga pernah punya cita-cita untuk jadi apa. Namun, yang pasti saya tidak pernah berani bercita-cita menjadi CEO perusahaan besar seperti jabatan saya saat ini. Jujur saja, saya malu kalau harus menjawab pertanyaan soal cita-cita. Masalahnya, cita-cita saya dulu berubah-ubah terus, seiring dengan apa yang sudah saya capai.

Dulu cita-cita lumayan sederhana, saya ingin bekerja di Semen Padang, yang bagi kebanyakan orang Sumatera Barat adalah perusahaan idola. Sepertinya akan cukup membanggakan dan menyenangkan jika bisa bekerja di sana. Karena itu, agar bisa ke sana, saya merasa harus bisa kuliah di ITB.

Bagi saya, menentukan cita-cita tertentu itu ibaratnya seperti orang yang sedang berjalan untuk mencapai tujuan. Misalnya saja, kita ingin pergi ke Bogor dengan jalan kaki. Apakah itu sesuatu yang mustahil? Tentu tidak. Namun, jika sejak awal kita langsung membayangkan betapa jauhnya Bogor (dari Jakarta), bisa jadi sebelum merentang langkah pertama nyali sudah ciut duluan. Kenapa tidak kita bayangkan saja bahwa untuk sampai ke Bogor, kita harus menempuh setidaknya satu kilometer dulu, lalu kilometer berikutnya dan seterusnya? Dalam hal ini, yang penting adalah, arahnya jelas ke Bogor.

Kepada para mahasiswa, saya selalu menekankan suatu cita-cita musti spesifik. Jangan, misalnya, menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Itu tidak jelas. Dan, saya percaya dengan ungkapan, gantungkan cita-citamu setinggi langit. Namun, sekali lagi, mesti spesifik. Misalnya ahli hukum, petani, guru, ahli teknik, dokter, pimpinan perusahaan, gubernur, menteri, presiden, atau pengusaha.

9 Responses to “Cita-cita”

  1. Erna Widi says:

    Menarik dan lucu juga perjalanan hidup Bapak, kalau saya lihat sebetulnya Bapak pada awalnya belum mempunyai cita-cita yang direncanakan diraih bertahap ya pak?

    Kalau saat ini apakah Bapak sudah puas dengan keadaan saat ini pak?

    • Hasnul Suhaimi says:

      Memang benar Mbak Erna, saya punya cita2 sesuai dengan apa yang saya lihat saja. Belum ada yang membimbing waktu itu. Maklum di jaman saya belum ada internet. Jadi dijalani saja, mana yang rasanya baik dicoba dan dimanapun mencoba berbuat yang terbaik. Akhirnya ke posisi sekarang jadinya.
      Saya sangat mensyukuri apa yang saya capai sekarang ini. Tidak terbayangkan akan sampai ke level ini tadinya.
      Terima kasih pertanyyannya Mbak.

  2. Apakah CEO perusahaan adalah puncak cita-cita karir bapak? Bagaimana cara Bpk. meraih karir yg ada skrng?

    • Hasnul Suhaimi says:

      Melihat umur dan kemapuan yang terbatas bisa jadi begitu pak Saleh. Kecuali Allah menentukan lain, kalau saya selesai tugas beberapa tahun ke depan saya bercita-cita untuk terus mengabdi, tapi jadi guru atau dosen. Itupun kalau ada yang mau terima. Hehe.
      Karir yang sekarang relatif saya raih dengan tahap demi tahap, merangkak dari bawah mulai dari montir dan petugas shift. Tapi dengan selalu belajar, meningkatkan kemampuan dan kontribusi serta selalu berusaha menolong semua pihak, lama2 terbuka peluang untuk meningkat. Kira-kira garis besarnya begitu pak.

  3. budi says:

    Salam hormat Pak Hasnul,

    Saya senang ketika di fb, ada teman yg mengetik web-address Pak Hasnul, dan langsung saya buka. Kesan saya, Pak Hasnul cukup berani membuka diri di publik, tidak seperti halnya executive pada umumnya yang selalu berlindung dibalik kemegahan birokrasinya. Dan saya cukup memahaminya karena kebetulan saya juga alumni Elektro ITB angkatan 1993, itu salah satu nature yg ada di kampus kita.

    Saat ini saya berbisnis di bidang selular yang kebetulan berhubungan baik langsung dan tidak langsung dengan perusahaan yang Pak Hasnul pimpin saat ini, XL. Ada pertanyaan yang saya sendiri ragu apakah hal ini pantas/tidak diungkapkan di forum ini, tapi saat ini saya putuskan untuk saya tanyakan:
    1. Saya membaca UU No. 5 Tahun 1999, Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. Bagaimana pendapat Pak Hasnul jika hal ini dihubungkan dengan regulasi XL untuk sistem Pendistribusian produk XL secara cluster/area?

    2. Saat ini XL telah membuka kerjasama penggunaan BTS bersama dengan AXIS, di wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan daerah lain selain Jawa-Bali. Bagaimana Pak Hasnul menanggapi rumor dan analisis-analisis bahwa ada rencana merger/akusisi XL dengan AXIS?

    Terima kasih.

    Salam Sukses selalu.

    • Hasnul Suhaimi says:

      Mas Budi, terima ksih atas pertanyaan yang menggelitik.

      1. Memang benar sesuai policy perusahaan XL menerapkan sistem cluster/area dalam distribusi produk kami. Berdasarkan pemahaman dan pemantauan kami, sistem tersebut sangat baik karena pihak yang ditunjuk jadi sangat fokus di area masing-masing. Tidak ada lagi daerah yang ditelantarkan karena dianggap kurang menguntungkan (padahal setelah ditekuni ternyata sangat prospektif) dan tidak terjadi lagi persaingan tidak sehat, misal jual rugi di daerah yang dianggap gemuk. Daripada terjadi persaingan tidak sehat sesama partner XL, sistem ini membuat partner kami bisa fokus bersaing sehat dengan dealer2 lain yang menjual produk 9 operator lainnya. Jadi mirip2 dengan agen tunggal satu produk yang bersaing dengan agen2 tunggal produk lainnya. jadi tetap terjadi persaingan sehat antar produk.

      2. Upaya kami membuka akses buat operator lain atau yang dinamakan roaming nasional merupakan deal bisnis saling menguntungkan. Selain itu juga menyambut himbauan pemerintah agar melakukan penghematan dalam infrastruktur. Jadi tidak ada kaitannya dengan rencana merger atau akuisisi. Secara perusahaan kami sangat meyakini lebih baik XL fokus mengembangkan perusahaan yang ada (organik growth) daripada bicara merger atau akuisisi yang selain mahal juga membuat repot hingga bisa-bisa kita kehilangan pasar.

      Salam Alumni mas Budi.

  4. budi says:

    Terima kasih Pak Hasnul atas jawaban yang elegan.

    Sukses selalu.

    Budi EL93

    Nb.: selain komunikasi melalui blog ini, apakah Pak Hasnul juga memanfaatkan media lain, misalnya Facebook, atau Twitter?

    • Hasnul Suhaimi says:

      Saya belum beranjak ke media lain seperti Facebook dan Twitter. Khawatir belum bisa secara rutin online.
      Kalau sudah agak lancar blognya baru melangkah ke sana kayaknya Mas.

  5. andreas prafitri says:

    pak hasnul yth
    Ass.
    sy sering tidak fokus dgn cita2 saya. dahulu cita2 saya ingin jd konsultan pajak yg handal. ttp tiba2 sy tes cpns dan hasilnya lu2s. meski br 2 minggu kerja, sy merasa tidak nyaman. kinerja yg lambat dan tidak menantang itulah yg membuat saya tidak betah.adapun umur saya 30 thn.
    menurut anda, lgkh2 apa yg hrs saya lakukan spy sy kembali pada cita2 saya.perlu diketahui.saya telah lulus sertifikasi konsultan pajak dari ikatan konsultan pajak indonesia dan telah memiliki sertifikat yg dikeluarkan IKPI dan ditjen pajak.trima untuk nasehat dan supportnya

Leave a Reply