Posted on January 12th, 2010
Waktu saya masuk untuk memimpin XL, saya bilang saya akan membawa perusahaan ini di posisi nomor dua. Banyak yang protes, kenapa hanya nomor dua? Kenapa bukan nomor satu?
Saya lebih percaya pada usaha ketimbang target. Begitulah cara saya melihat dan menetapkan sebuah tujuan, bukan dalam jarak yang jauh, melainkan bertahap. Bukan nomor tiga atau nomor dua itu yang penting, melainkan bagaimana cara untuk mengarah ke sana. Ada risiko yang harus dikalkulasi dan lain-lain.
Di masa lalu, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan tentang personal risk. Peserta diminta menentukan target, dengan melempar karet gelang ke dalam gelas dalam jarak tertentu secara bertahap. Misalnya, setelah berhasil memasukkan gelang dari jarak satu meter, lanjutkan dengan jarak dua meter dan seterusnya. Terakhirl, peserta ditantang untuk memasukkan karet itu dari jarak 10 meter dengan taruhan sejumlah uang. Saya memilih untuk tidak ikut. Bukan soal takut kehilangan uangnya kalau saya tak mampu memasukkan gelang. Tapi, saya menghitung risiko. Pada jarak 2 meter, saya berhasil. Namun, pada jarak 3 meter, saya tak mampu memasukkan karet ke dalam gelas. Bagaimana mungkin dari jarak 10 meter saya bisa, kalau di tiga meter saja saya gagal? Dari situ saya belajar soal setting target.
Dalam hidup ini, kita melihat ada orang yang terlalu mudah memasang target bagi dirinya sendiri. Tapi, tak sedikit pula yang membuat target terlalu tinggi sampai stres sendiri.
Dengan mentargetkan XL jadi nomor 2, bukan berarti kita tidak mau jadi nomor satu. Dalam rangka untuk memberi motivasi kepada karyawan, hal itu saya lakukan. Namun, bagi saya sebenarnya itu lebih merupakan arah yang mesti kita tuju. Target kita lebih kepada, misalnya, bagaimana melayani pelanggan sebaik-baiknya. Kalau pelanggan puas, otomatis kita akan jadi nomor dua atau bahkan nomor satu. Sehingga, kalau itu tidak tercapai, arahnya sudah benar.
saya salut atas pemikiran, gebrakan Pak Hasnul…sukses selalu
UPIK
Harian Fajar
Makassar
Terimakasih atas apresiasinya. Sukses juga buat aktivitasnya di Harian Fajar – Makassae. Amin.
Pak Hasnul, terima kasih sharing-nya yang sangat bermanfaat ini.
Memang kadang kita (khususnya saya) sangat perpedoman pada target yang terkadang mengesampingkan proses serta kalkulasi2 yang dapat mempengaruhi hasil yang kita inginkan, sehingga yang muncul bukan nilai nilai yang terukur melainkan suatu hal over confidence.
terimakasih sharingnya pak
Pak Eri. Bapak mengingatkan saya bahwa mekanisme target memang kadang2 bisa menyesatkan. Terlalu tinggi bisa jadi tidak tercapai, terlalu rendah mungkin kita kehilangan kesempatan. Bagaimana cara mengatasinya? Biasanya yang saya lakukan adalah segmentasi. Ke pemegang saham dan pihak luar, saya pasang target yang tetap menantang tapi achievable/agak konservatif karena biasanya diangap sebagai komitmen. Sedangkan ke dalam, kita perlu pasang target yang jauh lebih agresif dan menantang.
Dengan demikian, kita memacu diri sendiri dan perusahaan untuk bisa lari kencang tanpa kena penalti bila ternyata prediksi kita salah. Pengalaman saya 10%sampai 20% diatas target tidak menjadikan berita hebat namun 1%-2% di bawah target bisa menimbulkan keributan/ratusan pertanyaan yang sebagian besar tidak perlu.
thanks ilmunya, saya jadi sadar atas target-target saya yang mungkin beberapa meter saja masih bisa mundur …
terlihat dari upayanya, beberapa bulan ini XL sedang giat2nya promosi, mudah2an tercapai dan dapat ditingkatkan menjadi nomor wahid
Alhamdulilah saya bisa belajar dari Pribadi Sukses. Saya setuju dengan pendapat bapak
Bahwa kita harus realitas untuk tetapkan target dan fokus pada usaha pencapaian target tersebut. Terima kasih.
luar biasa pak…
terlepas dari nomor 1 atau 2, yg terpenting
pelanggan seluler akan semakin puas dan loyal…
simple tapi berarti..thx pak atas sharingnya…
Setuju sekali pak.. setting up goal yang benar adalah yang tahu posisi, bukan asal.
Sebuah pemikiran yang brilian pak, terlepas dari target yang semakin tinggi akan semakin sulit untuk dijangkau namun tidak ada yang tidak mungkin apabila kita mau berusaha. Semoga apa yang kita cita-citakan dapat terwujud.
Salam Sukses Selalu
Syafri
Corporate Sales
Masuk akal juga.
langsung saya terapkan pd target2 saya
yah minimal secara personal
Kadang hasrat yang salah ditambah dengan nafsu bisa membuat orang lupa diri dan malah menghancurkan diri sendiri..
Pemikiran yg brilliant Pak,, Terima kasih..
Saya catet pak.
Saya setuju dengan pak Hasnul, memang dalam hidup ini kita harus mengetahui kekuatan kita untuk merencanakan strategi unuk mencapai target tertentu, dimana target itu juga sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, Salam Kenal pak, I Love XL
Teorinya agak unik nih Pak, tapi bukankah semestinya kita itu memiliki impian atau target yang tinggi? karena dengan begitu kita jadi memiliki tujuan hidup yang jelas, sehingga kita bisa memetakan hidup kita dengan lebih rinci. Soal tercapai atau tidaknya target itu, bergantung sama keyakinan dan upaya kita untuk meraih target itu sendiri.
Ngomong2, saat ini kalo ga salah XL udah jadi operator terbesar kedua yah pak? selamat ya pak… coba bapak bikin targetnya XL jadi nomor 1… pasti ceritanya lain
Salam semangat luar biasa pak,dalam kehidupan manusia harus mempunyai target untuk mencapai kesuksesan.Salah satu faktor yang menunjang dalam kesuksesan diantaranya mempunyai target yang ingin dicapai,tujuan yang jelas dan sasaran yang dibidik serta mendalaminya secara iklas dan tawakkal,fokus seperti sinar laser.Bapak Hasnul Suhaimi merupakan inspirasi bagi saya unuk mencapai itu semua yang terlihat dari keberhasilan yang Bapak Hasnul Suhaimi raih.Mohon berbagi masukan,motivasi dan supportnya Pak,kiranya saya bisa meniru kesuksesan seperti yang Bapak Hasnul Suhaimi raih.Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih
Halo Pak Hasnul Suhaimi, saya pernah membaca sebuah majalah yang dimana terdapat Anda sedang diwawancarai dan disana Anda juga bercerita tentang target XL menjadi nomor dua. Saya rasa Bapak telah menerapkan prinsip dalam menentukan/menciptakan target yaitu SMART. Hal yang dapat saya perhatikan adalah Bapak menerapkan target yang Spesifik dan Realistik, Spesifik karena targetnya jelas yaitu untuk menjadi nomor dua, Realistik karena menyadari lingkungan kompetisi misalnya kompetitor2. Salut buat Bapak dan saya juga telah menjadikan Anda sebagai inspirasi di dalam hidup saya. Terima kasih juga bahwa Bapak telah bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk menyalurkan berkat melalui blog ini. Tuhan memberkati Anda ,keluarga dan pekerjaan Anda. (^^)
Benar-benar ide brilliant pak. Mulailah target itu dari sedikit demi sedikit. Jangan terlalu muluk-muluk untuk menetapkan sebuah target. Saya akan coba terapkan dikehidupan dan karier saya.
Salam semangat ” SELAMAT PAGI”
Pak, target menjadi yang kedua, itu target bapak sendiri atau target yang bapak publikasi ke orang lain? Saya rasa sulit untuk meminta diri sendiri menjadi nomor dua. Pasti ingin menjadi si nomor satu, kan?
Yang pernah saya alami ketika memasang target yang menantang, jangankan merasa tertantang, malah yang ada ciut duluan dan ragu untuk melakukannya. Mungkin karena mudah memasang target, sulit menjabarkan proses-proses untuk mencapainya
TFS
thanks atas ilmunya Pak, jadi belajar bagaimana menentukan target yang bisa di capai……
Thx atas petuah dan bimbingannya, pak. Yang penting Tetap Semangat Pagi.
Seperti yg bapak hasnul bilang, target terlalu tinggi bisa memicu seseorang stress..tetapi dengan target tinggi kita akan mendapatkan lebih banyak pengalaman yang bisa dikatakan sangat berharga..tidak ada sesuatu yang tidak mungkin, hanya saja belum saatnya..tapi saya yakin dalam benak anda ingin menjadi yang paling berharga.
Benar pak Andy, mungkin saya salah menulis seolah menyarankan agar santai-santai saja tanpa optimisme. Dalam benak saya memang maksudnya tinggikan/stretch lah target anda, tapi jangan berlebihan dan terlalu muluk sehingga membahayakan perusahaan dan diri sendiri. Tapi jangan juga kita lalu jadi lemah hiongga target terlalu rendah juga.
Terima kasih masukannnya pak.
setuju,,tapi kita harus tetap optimis
Betul pak sfuel, sama dengan jawaban saya buat pak Andy. Tetap kita targetkan lebih dari kemampuan kita, hingga bisa kita stretch diri kita untuk mencapai lebih. Kalau tidak kerjaan kita jadinya tidak menantang.
Terima kasih feedbacknya.
Pak, terima kasih atas sharringnya. Tulisan bapak membuat saya terinspirasi.
Terima kasih banyak d.a.
Selamat untuk menjadi terbesar ke-2 di Indonesia, Pak.
Saya adalah pelanggan tetap XL dari tahun 2003.
Saya sangat loyal dan menyukai XL.
Semoga bisa terus melaju.
Sebab mempertahankan lebih sulit daripada meraih.
Doa saya untuk kesuksesan Bapak dan XL.
Pelanggan setia seperti bapak yang membuat kami bersemangat berkreasi dari waktu ke waktu. Memang benar merebut sangat susah, namun mempertahankan lebih susah lagi. Dengan dukungan bapak dan 32 juta lebih pelanggan XL (dan mudah2an nambah terus) kami berharap akan dapat mempertahankannya ke depan.
Terima kasih banyak pak Edo.
Bagaimana pendapat Bapak mengenai org yang di awal pekerjaannya selalu mengejar yang terbaik (“pursuit the excellence”) dengan org yang berprinsip “make it happen” ?
Thx
Pertanyaan menarik mas Whisnu.
Idealnya dapat keduanya, kita bisa “make it happen”, dan setiap yang kita eksekusi harusnya dengan kualitas “excellence”.
Namun bila harus memilih salah satu saya pilih “make it happen” dengan syarat harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
Konsep pragmatis ini saya terapkan di kantor. Dari pada nunggu sebulan agar perfect lebih baik saya lihat apa adanya dulu setelah seminggu biar bisa saya kasi arahan peningkatan apa yang harus dilakukan. Biasanya 2 atau 3 kali kali ketemu selang seminggu hasilnya jauh lebih baik daripada 1 kali ketemu setelah 1 bulan. Begitu juga paket2 yang akan kita luncurkan, daripada tunggu yang sangat hebat tapi setelah 4 bulan, lebih baik luncurkan beberapa paket dalam 4 bulan. Kalau sekali 4 bulan, begitu paketnya gagal, kita kehilangan 8 bulan. Kalau tiap bulan 1 paket paling tidak ada 1 atau 2 yang sukses, kalaupun ada 2 yang gagal, kita hanya kehilangan waktu 2 bulan..
Terimakasih atas sharingnya Pak. Kalau boleh bertanya sekali lagi, berarti apakah saya bisa simpulkan bahwa Bapak lebih prefer ke ‘Result’ dibandingkan ‘Process’ ?
Salam Hangat,
Whisnu
Kalau saya dua-duanya. Antara proses dan hasil itu bagaikan dua mata uang yang sulit dipisahkan, tanpa proses yang baik, maka tidak mungkin menuai hasil yang memuaskan. Sebaliknya, jika proses terencana dengan baik dan berjalan lancar, Insya Allah apa yang menjadi target kita juga akan tercapai. Terimakasih.
Salam
sebagai salah satu inspirasi saya pikir cukup baik, tapi bukankan kita juga harus bermimpi, krn mimpi itu akan menjadi motivasi kita utk meraihnya.
Kadang2 kita juga harus bermimpi setinggi tinggi mungkin, krn didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, semua akan menjadi mungkin terjadi/diraih (dengan seizinNya).
So, saya pikir sangat baik juga kalau kita bisa mempunya target/visi menjadi yg terbaik, tinggal bagaimana cara kita utk memanage hati, usaha dan doa dlm meraihnya agar tidak stress/panik sendiri.
terima kasih pak Hasnul utk wawasan berbaginya.
Betul, bermimpi itu juga bisa menjadi motivasi bagi kita agar lebih giat dalam bekerja dan mencapai goal yang kita telah tentukan.
Namun kita harus tetapkan target yang realitis serta fokus pada usaha pencapaian target, tapi jangan berlebihan dan terlalu muluk sehingga membahayakan perusahaan dan diri sendiri. Setelah kita sudah berusaha jangan lupa berdoa semoga usaha kita bisa tercapai. Terimakasih.
Thanks pak Hasnul…
I do it..
Mimpi adalah hal yang tidak masuk akal saat sekarang ini tetapi target adalah hal yang realisitis pada saat sekarang.
Untuk meraih mimpi itu kita memasang dan mencapai target setahap demi setahap.
Dan pada akhirnya mimpi itu adalah suatu hal yang NYATA bagi kita.
Amin…
Luar biasa filosofi yang dalam sekali.. Terima kasih Pak Hasnul for sharing