Posted on March 8th, 2011

Bersama rekan-rekan di perusahaan.
Pada tulisan sebelumnya, Seni Memotivasi Karyawan, saya sudah menjelaskan tentang empat tipe kecakapan dilihat dari kemampuan dan kemauan karyawan tersebut. Pada tulisan ini, saya ingin berbagi bagaimana cara saya mengimplementasikan seni memotivasi karyawan tersebut.
Idealnya, setiap karyawan sudah punya kemampuan dan motivasi yang kuat. Namun, kebanyakan karyawan adalah di tingkat M2 atau M3. Untuk tingkat manajemen umumnya sudah M3. Tapi ada juga orang yang benar-benar baru, masih M1, yang memang harus kita didik.
Sebagai CEO, tentunya kebanyakan tugas yang saya berikan adalah untuk jajaran tingkat manajemen, yang umumnya sudah di tingkat M3. Pada level ini mereka sudah punya kemampuan, tapi kita harus kembangkan lagi untuk menguasai kemampuan di bidang lain. Dengan demikian, pimpinan perlu mendorong orang-orang yang sudah punya kemauan dan kemampuan itu untuk menambah lagi kemampuan lebih banyak. Misalnya, untuk spesialis networking, mereka perlu menambah ilmunya di bidang marketing. Contoh lain, untuk yang sudah jago di marketing, diajak untuk berpartisipasi di bidang strategi. Jadi kemampuannya lebih komplit, kan?
Sebagai contoh, pekerjaan iklan biasanya dilakukan oleh teman-teman dari bagian marketing communications. Tapi, pada saat yang sama kita tanyakan pendapat dari teman-teman dari bagian networking atau financing. Aneh? Mungkin mereka memang tidak biasa mengerjakan iklan, tapi kita bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda. Dengan cara ini, hasil yang didapat biasanya jauh lebih baik. Perusahaan mendapatkan keuntungan, sementara leader-nya terbantu. Karyawan yang dilibatkan juga akan merasa potensinya bertambah dan termotivasi untuk mencoba hal di luar bidangnya. Pada bidang yang sudah dia geluti lama, sudah jelas dia mampu. Karena itu, dia musti dibawa ke bidang lain agar kemampuannya semakin luas.
Bagi karyawan yang sudah M3, dorongan partisipatif akan lebih efektif dilakukan dengan memberikan tantangan (challenge) di luar kompetensi yang sudah dikuasainya. Jika karyawan yang dimaksud belum M3, maka kemungkinan akan kurang berhasil. Untuk itu, kita sebagai pemimpin harus mengetahui tingkat kecakapan anggota tim kita. Supaya kita dapat memilih cara yang optimal untuk menghadapi tim kita: tell, sell, partisipatif, atau delegatif.
Namun, perlu diperhatikan juga bahwa tingkat kecakapan ini juga bersifat case-by-case, tergantung kondisi dan tugas. Apakah sesuai kompetensi karyawan tersebut atau tidak? Misalnya, untuk kasus tertentu karyawan ini sudah mencapai M4, namun untuk beberapa kasus lain karyawan ini baru mencapai M2 saja. Beda kasus, beda tingkatan. Karena kemampuan manusia itu unik satu sama lain.
Saya biasanya mengambil asumsi awal dari M3. Selanjutnya, saya akan melihat kinerja karyawan tersebut. Setelah itu akan ketahuan, apakah sudah sesuai dengan yang kami harapkan ataukah tingkatannya mesti disesuaikan lagi: diturunkan ke M2 atau M1; atau bahkan dinaikkan ke M4.
Tidak jarang karyawan yang ditugaskan merasa tidak mampu. Untuk itu, jika tidak bisa dengan cara partisipatif, maka coba bimbing dengan cara sell, atau bahkan tell. Turunkan tingkat satu demi satu hingga sesuai dengan karyawan tersebut. Jika karyawan gagal di tugas barunya, bahkan dengan teknik tell, maka bisa jadi tugas barunya tidak sesuai. Jika itu yang terjadi, kepadanya bisa kita berikan tugas lain yang mungkin akan lebih sesuai.
Kasus lain, terkadang karyawan tersebut ternyata sudah mampu untuk menerima tugas yang bersifat pendelegasian (M4). Namun, untuk kasus M4, walaupun hanya tinggal mendelegasikan tugas, pemimpin tetap harus memperhatikan (monitoring) agar ide dan tugas yang dijalankan tetap berada di dalam jalur.
Jika penerapan motivasi ini sesuai dengan tingkatnya, maka proses kerja akan optimal dan sinergis. Bahkan hasilnya bisa melampaui perkiraan. Sebuah konsep yang sederhana memang, tapi tidak semua orang mampu untuk memahaminya.
Semoga bermanfaat. (HS)
ilmunya sangat berguna bagi para leader dan staf juga. wah kapan2 bapak harus bikin buku seri manajemen nih jangan kalah sama pak rheinald kasali hehe…
Wah, Mas Aslan, kalau sampai menulis buku nggak berani lah. Beda kelas sama Pak Rhenald. Takut nanti nggak ada yang mau baca. Hehehe…
Tapi terima kasih sekali atas saran dan motivasinya.
wah, luar biasa! pak hasnul menyajikan tips-trik memotivasi karyawan dalam berbagai tingkat kemampuan
selamat dan sukses terus pak!
Pak Ikhwan Alim, terima kasih atas apresiasi dan doanya. Semoga dapat bermanfaat.
Saya membaca buku cracking zone tulisan pak rhenald, saya termasuk yang banyak belajar dari bapak, saya terkesan dengan langkah-langkah strategis team bapak di XL yang banyak diceritakan didalamnya.
Saya tunggu terus tulisan bapak, terimakasih untuk XLalu Berbagi ilmu
Senang sekali jika bisa memberi manfaat untuk Anda. Terima kasih atas apresiasinya.
Kalau pak Hasnul ada kesempatan ngobrol dengan pak Rhenald Kasali, kira2 apa ya yg diobrolin, saya mudeng nggak ya yang dibicarain apa
Pak Triunt,
Wah, saya juga nggak bisa bayangin apa yang diobrolin. Bisa jadi saya juga gak ngerti. Beliau kan Profesor. Hehehe…
Assalamua’laikum. Penjelesannya sederhana walaupun bidangnya berat, keren Pak! Jadi ingin segera dimotivasi Pak Hasnul langsung nih, hehe. Hope to see you soon Pak
Wassalam.
Walaikumsalam wr wb.
Pak Rizki, terima kasih atas apresiasinya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat dan memotivasi.
terima kasih atas sharing ilmu, pengalaman & semangat Bapak lewat Cracking Zone…
sukses terus, Pak…God bless u…
Oscar, semoga bisa memberikan manfaat untuk kita semua. Terima kasih untuk do’a-nya.
Thanks ilmunya pak …
Mau nanya, jika memang kebanyakan team yang kita pimpin berada di M4, tetapi karena sistem yang ada karir mereka mandeg sehingga menimbulkan demotivasi, apa yang harus kita lakukan sebagai leader ?
Mohon sharingnya
Terima kasih
Begini, Pak Andri. Yang kita lakukan di XL kita carikan tantangan baru berupa assignment baru di luar bidang yang ada sekarang hingga tetap ada improvement. Jadi job enrichment bukan enlargement.
Harapannya dengan adanya rotasi lama2 ybs akan menjadi multi spesialis, hingga akan terbuka peluang promosi yang lebih luas bagi ybs.
Asslamulaikum….
Alhamdulillah, saya seneng banget bisa ketemu Bapak kendati hanya lewat dunia maya, ide-ide Bapak sangat berguna untuk saya, apa rencana Bapak ke depan?
Wa’alaikum salam,
Terima kasih sudah mau mampir ke sini, Pak Sholihin Hasan. Semoga bisa bermanfaat. Untuk ke depannya, saya akan berusaha untuk terus berbagi
Inspiring lesson from inspiring person.. Nice sharing pak…
Pak Donald,
Semoga kita semua mampu menuju kesuksesan. Terima kasih atas apresiasinya.
Ide yg memberikan inspirasi Pak Hasnul, terutama dengan ide sell-tell nya plus challange level adjusmentnya.
Hanya saja tantangan lainnya adalah kadang timbul mindset baru bahwa employee yg mendapat tugas utk ikut dikollaborasi tsb seperti mendapat tugas tambahan yg diluar Main-Job Desc dan employee yg ditumpangi kollaborasi seperti merasa ada orang lain yg ingin merebut Main-Job Descnya , Nah mohon petunjuk utk Tips-Trick mengenai hal ini // Terima Kasih – Farid
Tergantung pada corporate culturenya, Pak Farid. Di XL yang mengutamakan Teamwork (corp culture ITS XL: Integruty, Teamwork, Service eXceLlent) hal begini diupayakan tidak terjadi.
Selain definisi biasa Teamwork diterjemahkan sebagai saling mengisi, saling menolong. Mau membantu, mau dibantu tanpa harus merasa lebih atau merasa kurang. Apalagi merasa diambil wewenangnya (job desc). Sulit memang, tapi karena senantiasa diingatkan kami yakin pelan-pelan akan jadi biasa. Saya saja sering nanya ke teman2 XL yang lebih paham sari saya, kadang2 ada yang datang kasi saran tanpa ditanya atau diminta bantu. Kan tidak berarti dia ambil alih tugas saya sebagai dirut. hehee…
semua yang bapa tulis sangat bermanfaat bagi saya karena dengan sedikit membaca karya bapa saya maju…dan ga mau mundur..thkz
Terima kasih atas apresiasinya, Pak Hendra. Senang sekali jika bisa memberi manfaat untuk Anda. Sukses dan terus maju.
Terima kasih Pak Hasnul atas Sharingnya….
TELL —> SELL —> PARTISIPATIF —> DELEGATING
Menurut saya ini bukan hanya sekedar memotivasi, tapi juga mendevelop sesorang/karyawan untuk menjadi pribadi yg lebih baik dan lebih baik lagi… Karena bisa jadi ini merupakan sebuah developing siklus.
Menurut kaca mata saya pak
Terima kasih juga atas kesediaan Pak Amrul Azhar untuk turut serta berbagi opininya di sini.
Kalau diebrikan kesempatan kepada pak HS sebagai pembicara dalam kuliah terbuka di Ilmu Manajemen mau nggak ya?
Boleh saja, kok, Craftsman.
pak Hasnul,
sangat terkesan dengan sharingnya pak.
sangat menginspirasi
namun kadang ada beberapa pemimpin yang masih belum sadar akan 3 hal yang bagi saya cukup penting
- self understanding
- self awareness
- self control
sehingga pada akhirnya bawahannya menjadi “belum” termotivasi dan bahkan menyebabkan demotivasi
mohon sarannya akan hal itu pak
terima kasih banyak pak
Afrik, style pemimpin berbeda-beda. Ada yang mau adaptasi ada yang tidak. Tugas kita sebagai staf utk adaptasi dengan pemimpin kita apapaun style mereka.
Kalau di XL karena kita sangat sadar akan cepatnya perubahan semua direksi sepakat untuk lebih adaptif dan saling ingatkan dan malah ada coach utk satu/dua level; di bawah direksi agar bisa adaptif. Semoga saran saya bisa membantu.
Dear Pak Hasnul
Nice Share Pak…
teman yang pintar XLalu Berbagi
salam sukses.
Rafiq
Terima kasih atas kunjungannya, Pak Rafiq. Salam sukses.
Saya appreciate dengan kalimat “kemampuan manusia itu unik satu sama lain”,,,dan sedikit orang yang menerjemahkan seperti itu (mnurut saya)..jujur saya dan mungkin yg lainnya merasa ada penghormatan utk keunikan ini..terimakasih p.Hasnul
Benar sekali, Pak Agung Nugroho. Tidak ada manusia yang identik dengan manusia yang lain. Terima kasih atas komentarnya.
Apakah dengan rekrutasi yang baik,karyawan dengan tipe M1 masih ada juga dalam lingkungan perusahaan. Apakah sangat dimungkinkan untuk memberhentikan karyawan dengan tipe M1 ini, jika sudah dilakukan usaha yang optimal??
Terima kasih atas responya. Salam
Pak Yan, hal tersebut sangat mungkin terjadi. Pertama adalah recruitment baru. Jangan lupa kematangan orang tidak bersifat statis. Seseorang yang sudah matang dan sangat ahli di bidangnya bisa saja balik ke M1 bila dihadapkan pada tugas baru atau masalah yang belum pernah dialami sebelumnya. Pada saat itu kita harus guide dengan penjelasan yang komplit seperti halnya tell. Namun secara umum M1 hanya kondisi sementara, hingga tidak perlu dilakukan hal yang drastis. Hanya butuh waktu utk improve.
Assalammuallaikum. wr. wb,
Salam *123#
Semangat Pagi, Pak Hasnul…
Saya selalu mengikuti tulisan-tulisan blog Pak Hasnul. Yang paling membuat saya terkesan adalah tulisan bapak mengenai “bagaimana memotivasi karyawan” ini, berulang-ulang saya baca. Benar-benar memotivasi saya dalam mengarahkan staff dibawah saya. Terima Kasih, Pak Hasnul. Dan saya juga minta ijin apabila diperkenankan untuk mengutip beberapa point dari tulisan bapak, agar saya tidak lupa dengan intisari tulisan bapak. Terima kasih dan Semangat Pagi.
Silakan Pak, semoga dapat memberi manfaat bagi Anda dan tim.
Dear Pak Hasnul,
Terimakasih atas sharingnya, sangat bermanfaat…sy belajar banyak dari tulisan bapak ini untuk membimbing staf kami dikantor
Salam,
Pak Bayu Adhitya, terima kasih atas komentarnya. Semoga dapat bermanfaat.
Wah, Kang Hasnul….thanks atas ilmunya.
meni bermanfaat bener…apalagi belakangan ini saya sering mengikuti blog akang.
jangan pernah berhenti berbagi untuk sesama ya.
maju selalu Indonesiaku.
Thank You,
Razip Musa
Terima kasih atas apresiasi dan kunjungannya, Razip Musa.
Menarik sekali Pak Hasnul, kondisi dan type karyawan dlm sebuah team pastinya berbeda-beda, hal ini yg membuat cara memotivasi karyawan pun butuh penyesuaian. Menurut saya ada karyawan yg akan termotivasi jika di depannya dikasih impian, namun ada jg yg berada di comfort zone tidak berlaku motivasi ini, sehingga dia butuh penyesuaian motivasi, misalnya dengan posisi nyamannya kita goyang sehingga akan menjadi termotivasi, istilahnya dikasih kunci mobil di tangan kanan, dan dikasih pedang di tangan kiri, terserah lebih cocok yang mana.
Opini yang menarik, Pak Wahyudi. Terima kasih atas komentarnya.
thanks sudah memberi petunjuk….
Terima kasih kembali, Miera. Semoga bermanfaat.
pak ! mnurut bpak sndiri bgamana mnjadi pemimpin yg baik dan bgamna kta memposisikan dri di dlm suatu msyarakat agar kta mdah di trima dlm masyrkat itu sndiri !!!
serta cara mngontrol emosi pda saat mlkukan sbuah diskusi
trimksih sblm nya pak !!
Di mana bumi dipijak, di situ langit di junjung. Beradaptasilah sesuai lingkungan tersebut. Untuk mengontrol emosi saat diskusi, mungkin bisa merujuk ke artikel berjudul “Perlunya Menjadi Pendengar yang Baik”. Terima kasih atas komentarnya, Riski. Semoga menjawab.
tulisan yang sangat bagus pak.
tapi saya mau tanya, jika karyawan kita yang baru termasuk karyawan M1 dan M2 tetapi mereka keras kepala dan lagi lebih tua dari usia kita sehingga mereka merasa hasil kerja mereka lebih bagus dari penilaian kita padahal agak melenceng dari target.
nah dari situ yang ingin saya tanyakan bagaimana memotivasi mereka agar mampu bekerja dan mau melakukan sesuai target mengingat mereka itu merasa lebih bisa?
terima kasih.