Menulis Skripsi dan Mudik Lebaran

Beberapa waktu yang lalu, saya menghadiri dies natalies STEI (Sekolah Tinggi Elektronika dan Informatika). Saya pikir, ini acara bagus, banyak juga dosen-dosen yang sudah cukup sepuh, termasuk pembimbing skripsi saya dulu. Selain untuk nostalgia, juga untuk bersilaturahmi.

Terkait dengan skripsi, saya punya cerita menarik. Kejadiannya sekitar pertengahan tahun 1981, sudah hampir setahun saya menulis skripsi. Sementara target saya adalah wisuda di bulan September. Waktu itu saya sudah diingatkan oleh teman-teman, dosen pembimbing yang saya pilih rada susah.  Namun topik yang saya sukai hanya bisa dibimbing oleh beliau. Ya udah, nekat aja. Jadi, saya sudah mikir dan nulis banyak (sudah 4 chapter), sudah bikin alat juga, dan setiap selesai satu chapter saya serahkan ke beliau. Eh, ternyata ga dibaca-baca. Mungkin sibuk sekali.

Mengejar wisuda September, tetapi bulan Juli itu lebaran. Ibu saya bilang, “pulang.” Tapi, saya pikir kan tanggung tuh, jadi saya bilang “Ga usah deh, Bu. Saya lagi nulis. Kalau nanti terhenti karena pulang, susah untuk mulainya lagi.” Ternyata, ibu saya ngotot, “Pulang deh. Tahun lalu kan kamu ga pulang.” Ya sudah, saya turuti permintaan beliau. Tapi saya pulangnya ogah-ogahan. Ada rasa malas untuk pulang. Alasannya ya karena menulis skripsi. Kalau sedang menulis, lalu terhenti, nanti akan berat untuk mulai menulis lagi.

Dari Bandung, berangkat ke Jakarta dulu. Saya diantar oleh anak paman saya ke Kemayoran (bandara waktu itu). Malangnya, saya terlambat, kena macet. Saat saya sampai, counter check in sudah tutup, dan seat saya sudah diserahkan ke orang lain. “Batal nih. Ga jadi pulang ah.” Ada alasan untuk tidak pulang kan?

Tapi saya teringat. Walau bagaimana pun, tentunya tidak enak rasanya untuk tidak menuruti permintaan ibu. Saya naik bus ke Wisma Metropolitan untuk mengurus jadwal penerbangan baru (waktu itu belum bisa diurus di Bandara). Alhamdulillah, dapat penerbangan H-1.

Nah, yang membuat saya sedih lagi, mungkin karena berdosa telah melawan ibu, saya kecopetan di bus. Uang titipan dari kakak sepupu saya hilang. Jumlahnya lumayan untuk ukuran waktu itu, bisa untuk biaya hidup selama 4 bulan.

Hilang. Tidak tahu harus bagaimana. Ya sudah, saya tetap pulang. Sesampainya di rumah, saya cerita pada ibu. “Bu, saya mau pinjam uang seratus lima puluh ribu, nanti saya ganti.” Tentunya ibu saya heran, “Wah, banyak sekali? Untuk apa?  Kan kemarin sudah dikirimkan?”. Akhirnya saya ceritakan semuanya. Saya juga minta maaf karena ada rasa malas disuruh pulang. “Sudah, tidak apa-apa. Ikhlaskan saja”, jawab ibu.

Di Padang, saya juga sempatkan untuk mengirimkan ucapan lebaran untuk dosen pembimbing saya. Waktu itu kan jamannya masih pakai telegram indah.

Lebaran hari kedua saya pulang. Sampai di Jakarta saya langsung menuju Bandung.

Masih dalam suasana libur lebaran, pagi-pagi saya sudah di laboratorium kampus demi wisuda September. Eh, ternyata dosen pembimbing saya ada di lab juga. Saya sapa, “Selamat lebaran, Pak.” Mungkin beliau sedikit heran juga, “Hasnul, bukannya kamu lebaran ke Padang? Saya terima telegram ucapan lebaran dari Padang nih”. Lalu saya ceritakan alasan saya, “Iya, Pak. Memang saya pulang ke Padang, tapi karena saya pengen lulus September, saya cuma 3 hari di Padang lalu cepat-cepat balik. Lebaran cuma bertemu dan minta maaf dengan orang tua dan keluarga saja”.

“Oh, begitu? Ya sudah, kamu kerjain aja yang cepat (skripsinya)”, tukas beliau.

Berselang seminggu, beliau memanggil saya. Sepertinya beliau impressed karena saya mengorbankan liburan lebaran saya hanya untuk skripsi. Plus telegram ucapan selamat lebarannya juga mungkin ya? Tulisan saya dikomentari, dicoret-coret, dan direvisi. Selama 2 minggu, saya lakukan sesuai perintah beliau: ubah, tambah ini-itu, revisi. Jadi. Lalu, “Hasnul, kemari. Terusin bab yang lain.”

Setelah melanjutkan ke bab-bab berikutnya, akhirnya, “Hasnul, jilid!” Ya, 2 bulan langsung jadi. Sidang skripsi, lulus, dan akhirnya wisuda di bulan September. Alhamdulillah.

Kalau tidak seperti itu , saya tidak yakin bisa lulus cepat. Mahasiswa bimbingan beliau biasanya baru beres 2 tahun, bahkan ada yang sampai 3 tahun.

Sejak itu hubungan kami sebagai Dosen dan mahasiswa makin dekat. Bahkan, waktu saya mau ambil program MBA, beliau yang memberikan referensi untuk admission. Sampai sekarang saya masih berhubungan dengan beliau. Begitulah, para dosen itu orang-orang hebat, Doktor, namun di masa tuanya, kebanggaannya adalah melihat hasil didikannya. Beliau selalu berkata, “Kepuasan batin bagi saya melihat anak didik saya sukses”. (HS)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>