Berjuang Mencari Beasiswa

Posted on November 24th, 2011

Comment: 34 Comments »

Sebagai “orang tehnik”, saya merasa bahwa para engineer memegang peranan paling penting di industri telekomunikasi. Secara logika dan kenyataan lapangan memang begitu di awal karir saya. Tetapi setelah 8 tahun bekerja, saya melihat bahwa ada perubahan di dunia industri dari operation-centric menjadi market-centric. Mendadak peran orang teknik digantikan orang marketing dan sales. Tidak ada jalan lain saya harus menyesuaikan diri.

Waktu itu tahun 1989. Hasil diskusi dengan pak Heru Prasetyo, trainer SGV Utomo, saya mendapat jawaban bahwa perhatian dunia bisnis Indonesia sedang beralih dari engineering ke social science. Saya disarankan untuk “menyeimbangkan” kemampuan tehnik dengan kemampuan non-tehnik. Menurut beliau akan lebih terbantu melalui pendidikan lebih dulu, yaitu dengan mengambil program MBA (Master of Business Administration). Saya pun diyakinkan untuk belajar di luar negeri. Ide  menarik. Namun pasti biayanya pasti tidak sedikit. Tapi kan ada beasiswa pikir saya!

Setelah mengkompilasi informasi dari berbagai sumber, saya mencoba untuk mendapatkan beasiswa dari Fullbright Foundation. Paralel saya mempersiapkan diri, antara lain dengan kursus Bahasa Inggris (TOEFL). Namun, belum sempat nilai TOEFL saya serahkan, lamaran saya sudah ditolak. Habislah sudah harapan.

Namun saya tidak mau terima begitu saja. Saya telepon Fullbright untuk protes. Saya jelaskan bahwa saya telah berjuang untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan telah mendapat nilai TOEFL 573.  Lebih dari cukup untuk kualifikasi beasiswa. Namun tetap saja tidak mengubah keadaan: saya ditolak. Alasannya susah untuk dibantah. Lebih dari 2000 pelamar, tetapi hanya 2 orang yang akan mendapat beasiswa. Jadi hanya dilihat dari berkas-berkas administrasi. Sekali ditolak tidak bisa ditinjau kembali.

Apa saya harus menyerah dan batal melanjutkan pendidikan ke luar negeri?

Lucky to have my father, saya diwariskan sifat gigih beliau. Kembali saya menghubungi pihak Fullbright, siapa tahu ada jalan lain untuk mendapatkan beasiswa. Sekali ini yang menerima telepon lebih bersahabat. Beliau bilang memang sayang kalau TOEFL 573 disia-siakan. Saya disarankan untuk menghubungi Ibu Irma di East West Center di Kedutaan Amerika Serikat. Barangkali di sana masih ada kesempatan. Buru-buru saya kontak Ibu Irma yang ternyata pimpinan West Center Jakarta. Sayangnya, ternyata proses penerimaan di sana sudah berjalan, dan telah terpilih 7 orang yang akan menerima beasiswa. Gagal lagi?

Memang terlambat. Tapi tak ada kata menyerah untuk niat baik. Sekali lagi saya coba negosiasi dengan modal nilai TOEFL. Setelah saya yakinkan, Ibu Irma juga sepakat: sayang kalau nilai 573 tidak dipergunakan sebagaimana mestinya. Beliau berjanji untuk mencoba negosiasi dengan kantor pusat East West Center untuk minta tambahan jatah satu orang lagi dari Indonesia. Alhamdulillah, saya berhasil menjadi orang ke delapan yang menerima beasiswa di saat proses penerimaan sudah selesai. Kegigihan berbuah manis. Saya terbang ke Amerika untuk mengambil program MBA di University of Hawaii selama 2 tahun. Ilmu pelengkap yang memegang peranan penting dalam menunjang karir saya di kemudian hari. Istri dan putri sulung saya bawa serta ke sana. Di sana pula saya dikaruniai seorang anak laki-laki.

Belajar gigih, bekerja gigih. Dengan niat yang baik, kerja keras akan berbuah manis. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. (HS)

34 Responses to “Berjuang Mencari Beasiswa”

  1. Bobby Soedaryanto says:

    Good Pak..sangat terinpirasi..Sukses Slalu..

  2. Rogers says:

    Wow…luar biasa pak Hasnul. Setelah 3 kali ditolak, bapak tetap gigih berusaha dan akhirnya berhasil. Salut buat bapak. Saya terinspirasi sekali dengan tulisan bapak diatas, khususnya mengenai arti sebuah perjuangan. Ini menguatkan saya untuk terus berjuang mendukung cita-cita anak saya untuk mendapatkan bea siswa ke Berklee College of Music di Boston. Terima kasih Pak.

    • Seperti yang saya sebutkan dalam tulisan di atas, “Lucky to have my father”. Menjadi seorang yang gigih tentunya memberi nilai positif untuk diri kita. Terima kasih atas komentarnya, Rogers. Semoga anak Anda berhasil mendapatkan beasiswa.

  3. david says:

    Gigih sekali pejuangannya.
    Jadi ingat 2 kali ditolak beasiswa, akhirnya memberanikan diri mendaftar sekali lagi. Tetap saja ditolak :)

  4. Trian says:

    Dear Pak Hasnul,

    Very inspiring. Dari tulisan Bapak yang sangat menarik adalah titik balik dimana Bapak menetapkan niat untuk mengembangkan diri diluar orientasi teknik. Dengan niat baik, kejujuran dan disiplin Bapak akhirnya berhasil mewujudkan self esteem dan self actualiztion yang alhamdulillah bermanfaat juga baik orang lain. Thank you for sharing Pak.

  5. AR says:

    Hanya ada satu kata ‘AMAZING’….

    Di dalam kesulitan ada kemudahan (QS 94:5-6), Kita diuji sesuai dgn kemampuan (QS 2:286).

    Alloh saja sudah berfirman seperti itu…apa lagi alasan kita untuk tidak menjadi seorang yang OPTIMIS..

    Salam Transformasi

  6. Agustian Wijaya says:

    Persis seperti pepatah ya Pak…
    “banyak jalan menuju Roma”
    Meraih sukses tidak mesti menunggu biaya/uang yg banyak utk menggali ilmu…
    Mantaab Pak…

  7. Cut Ratu says:

    Dimana ada kemauan disitu ada jalan..setuju sekali. Dari cerita Bapak diatas benar2 tercermin karena adanya kemauan dan tekad yang keraslah yang membuahkan hasil yang manis. Hm..Saya masih harus belajar banyak dalam penerapannya.. Doakan ya Pak :-) Terima kasih sharingnya yang selalu inspiratif..

  8. hananta satyadi a says:

    Setuju pak,
    Man Jadda Wa Jadda

    Wassalam,

  9. Fajar says:

    Sepertinya sekarang mendapatkan izin dari kantornya yang lebih sulit daripada mendapat beasiswanya :)
    Very inspiring Pak.

  10. Perlu sangat butuh dan harus ditiru !!!

  11. darwis djohan says:

    Inspiratif and powerfull. Conratulation pak Suhaimi

  12. dihas says:

    sebuah kisah yg perlu dicontoh….
    :)
    agar bangsa indonsia lebih maju dan dapat menguasai dunia…

  13. Wah, inspiratif Pak! Kalau sekarang apakah masih berlaku tren yang sama Pak? Ilmu teknik berpadu dengan ilmu sosial? Apakah dengan ilmu sosial saja seorang bisa mendapat peran penting dalam industri telekomunikasi?

  14. Hendri says:

    Perjuangan yg begitu Menakjubkan, tanpa rasa putus asa..itu yg jarang dimiliki para pemuda saat ini…
    suatu perjuangan yg gigih tidak akan menjadi sia2, suatu saat apa yang kita tanam pasti akan kita petik buahnya.

  15. Edi S Rasyid says:

    Sungguh menyenangkan membaca article ini dan semoga dapat memberikan motivasi kepada adik2 mahasiswa yang sedang menimba ilmu untuk tidak pernah putus asa.

    Sukses selalu Pak Hasnul….

    Semoga ditengah2 kesibukannya masih tetap bisa berbagi pengalaman dan tantangan masa depan….

    • Terima kasih atas kunjungan dan apresiasinya, Pak Edi S Rasyid. Kalau memang niatnya untuk menimba ilmu, untuk beribadah, Insya Allah ada jalannya. Tugas kita adalah berdoa dan berusaha.

  16. Sumedi Kdh says:

    Kegigihan yang Luar Biasa, Terimakasih, tulisan ini membakar semangat saya lagi. 17 tahun lalu saya ditolak karena fisik kurang tinggi.Dua periode “maksa” akhirnya ada jalan juga, tapi Bapak berkali-kali…. kini saya berjuang untuk ke-4 anak saya, sekali lagi terimakasih pak Hasnul, untuk modal kegigihan kami.

  17. dani says:

    luar biasa …kegigihan membawa hasil …dan tentu tidak lupa doanya ….semoga selalu eksis dan tetap kreatif dengan ide2 segar didunia telekomunikasi pak ….

  18. Dillah says:

    sekedar menanggapi tulisan pak mirza..

    IMHO, menurut saya dalam menuntut ilmu itu yg paling penting adalah passion kita ada dimana, saya kurang setuju kalo ada orang yg bermaksud melanjutkan pendidikannya memilih jurusan berdasarkan market demanding, kecuali kita belum memiliki passion dan ada kesempatan untuk sekolah.

    Soal jadi pegawai ato pengusaha, menurut saya itu bisa berdasarkan passion kita juga. Jika ketika menjadi pegawai passion kita tersalurkan ya kenapa tidak, tapi sebaliknya apabila ketika kita menjadi pegawai hasrat kita tidak tersalurkan ya mau ga mau kita buka lingkungan pekerjaan yg kita inginkan.

    Jadi kesimpulannya, ikuti PASSION kita selama positif, jadi pengusaha yg membuka lapangan kerja itu baguss namun Menjadi pegawai selama kita menyukai kesibukan tersebut bukan lah hal yang hina..malah menurut saya lebih hina para pengusaha yg memperlakukan pegawai nya dengan semena-mena

  19. mirza says:

    KEPADA BAPAK DILLAH?

    saya Mirza (wanita dan masih muda)? bukan pria? jadi jangan dipanggil bapak ?

    oh ya ? ingin klarifikasi? saya disini hanya sharing pengalaman waktu saya mendapatkan beasiswa aja? dlm hal ini saya tidak memaksa para pembaca utk pindah jalur jurusan IT ke manajemen? itu tergantung orangnya mau satu jalur atau tidak ?.
    mau jadi pekerja atau pengusaha itu tergantung orangnya?
    saya berlatar keluarga pedagang dari sumatra barat? makanya saya tertarik dengan bisnis? dan sehingga saya perlu menambah wawasan ilmu manajemen?

    oke Bapak? smoga bapak maklum?

    wasalam

    mirza

Leave a Reply